Memuat...

Investigasi Al Jazeera Bongkar Rahasia Gelap di Balik Hilangnya Ribuan Jasad dalam Sekejap di Gaza

Zarah Amala
Selasa, 10 Februari 2026 / 23 Syakban 1447 11:22
Investigasi Al Jazeera Bongkar Rahasia Gelap di Balik Hilangnya Ribuan Jasad dalam Sekejap di Gaza
Investigasi Al Jazeera bongkar rahasia gelap di balik hilangnya ribuan jasad dalam sekejap di Gaza (Al Jazeera)

GAZA (Arrahmah.id) - Sebuah investigasi mengejutkan bertajuk "Al-Mutabakhirun" (Mereka yang Menguap) yang ditayangkan Al Jazeera mengungkap bukti-bukti lapangan mengenai lenyapnya ribuan jenazah warga Palestina tanpa jejak. Fenomena ini diduga kuat merupakan akibat dari penggunaan senjata terlarang secara internasional yang menghasilkan panas ekstrem dan tekanan vakum di zona padat penduduk.

Laporan dari Pertahanan Sipil Gaza, serta kesaksian para paramedis dan keluarga korban, mendokumentasikan hilangnya lebih dari 2.842 jenazah. Di lokasi-lokasi serangan, tim penyelamat sering kali hanya menemukan percikan darah atau residu manusia yang sangat kecil, sementara tubuh korban lainnya hilang sepenuhnya.

Juru bicara Pertahanan Sipil, Mayor Mahmoud Basal, menyatakan bahwa timnya berulang kali menghadapi situasi di mana jumlah orang yang dilaporkan berada di dalam rumah yang ditargetkan jauh lebih banyak daripada jumlah jasad yang berhasil dievakuasi. Kesimpulan lapangan menunjukkan bahwa tubuh-tubuh tersebut telah "menguap sepenuhnya", sebuah fenomena yang belum pernah dialami selama masa tugas mereka sebelum perang ini.

Yousri Abu Shady, mantan kepala inspektur Badan Energi Atom Internasional (IAEA), menjelaskan secara teknis bahwa senjata yang menggabungkan panas ekstrem dan tekanan tinggi mampu menghancurkan sel manusia secara total. Senjata termobarik (vakum) menghasilkan panas yang mencapai 3.500 derajat Celcius, karena tubuh manusia terdiri dari sekitar 80% air, paparan suhu setinggi ini disertai tekanan dan oksidasi ekstrem menyebabkan cairan tubuh menguap seketika dan jaringan berubah menjadi abu atau rintik halus.

Abu Shady menarik perbandingan historis dengan Invasi AS ke Irak, khususnya dalam Pertempuran Fallujah (2004-2005), di mana pola serupa tercatat dan kemudian menjadi subjek investigasi internasional atas dugaan penggunaan senjata terlarang.

Jenis Amunisi yang Teridentifikasi

Investigasi ini melacak beberapa jenis amunisi buatan Amerika Serikat yang diduga digunakan oleh tentara 'Israel' untuk mencapai efek destruktif tersebut, antara lain: MK-84 (The Hammer), bom serbaguna dengan daya ledak masif, BLU-109, bom penetrator yang mampu menembus bunker dan meledak di ruang tertutup, GBU-39, bom diameter kecil yang dipandu presisi, dan Hellfire Missiles, terutama varian yang dirancang untuk menciptakan panas tinggi di ruang terbatas.

Penelitian ilmiah, termasuk yang dipublikasikan di ScienceDirect, mengonfirmasi bahwa ledakan termobarik 5 kali lebih kuat daripada bom konvensional dan bekerja dalam tiga fase mematikan: gelombang panas super, gelombang tekanan dahsyat, dan bola api yang menyerap oksigen di ruang tertutup.

Secara hukum, penggunaan senjata-senjata ini di area pemukiman padat melanggar prinsip diskriminasi dan proporsionalitas dalam Hukum Humaniter Internasional. Meskipun 'Israel' secara resmi membantah penggunaan senjata terlarang, organisasi internasional seperti Amnesty International sebelumnya telah mendokumentasikan penggunaan amunisi serupa di Gaza.

Direktur Jenderal Kementerian Kesehatan di Gaza, Dr. Munir al-Bursh, menekankan bahwa fenomena ini telah merampas hak paling dasar manusia, yaitu hak untuk dimakamkan secara layak. Sementara itu, 10.000 jenazah lainnya dilaporkan masih tertimbun di bawah reruntuhan karena kurangnya alat berat untuk evakuasi.

Hingga Senin (9/2/2026), Kementerian Kesehatan Gaza mencatat total korban jiwa telah mencapai 72.032 orang gugur dan 171.661 orang luka-luka sejak dimulainya perang pada Oktober 2023. (zarahamala/arrahmah.id)

HeadlineIsraelPalestinaGazasenjata termobarik