DAMASKUS (Arrahmah.id) — Di tengah kekacauan pasca tumbangnya rezim Bashar Assad, “Israel” disebut tengah berupaya memperluas pengaruhnya di selatan Suriah dengan menggunakan “pion-pion” lokal. Di balik bantuan yang dikirimkan kepada warga Druze di Sweida, tersusun strategi yang jauh lebih besar dan berbahaya, ungkap mantan diplomat Prancis dalam artikelnya di majalah Le Point.
Gérard Araud, mantan Duta Besar Prancis untuk Amerika Serikat sekaligus mantan perwakilan Prancis di PBB, menyajikan analisis tajam terhadap situasi Suriah, jauh dari penyederhanaan dangkal ala media sosial. Menurutnya, kawasan Timur Tengah kerap dilihat dengan kacamata emosi semata dan bukan analisa mendalam, menghasilkan narasi hitam-putih yang menyesatkan.
Gérard Araud, mantan Duta Besar Prancis
Araud menyebut bahwa peristiwa terbaru di Sweida, Suriah selatan, menjadi contoh gamblang bagaimana narasi media bisa berubah drastis: dari kenyataan kompleks menjadi cerita tentang “genosida” atau sekadar intervensi “kemanusiaan”.
Ia menggambarkan Suriah pasca-Assad—yang resmi dinyatakan bebas pada Desember lalu setelah 14 tahun perang saudara—sebagai mozaik wilayah-wilayah yang dikendalikan oleh milisi-milisi lokal, yang banyak dibentuk berdasarkan identitas suku, etnis, atau agama.
Lima Tantangan Pemerintahan Baru Suriah
Dalam pandangannya, pemerintahan transisi di bawah Presiden Ahmad Asy-Syaraa tengah menghadapi lima tantangan besar:
- Negara yang hancur total, dengan Produk Domestik Bruto (PDB) yang anjlok hingga separuh dari nilai sebelum 2010.
- Bencana alam berat, berupa kekeringan terparah sejak 1956.
- Pemerintahan pusat yang masih rapuh, dan harus bernegosiasi dengan para pemimpin lokal untuk mengembalikan otoritas negara.
- Kemarahan korban rezim Assad, yang bisa berubah menjadi aksi balas dendam terhadap kelompok minoritas.
- Kelemahan aparat keamanan, yang dilaporkan kekurangan senjata, tidak disiplin, dan sebagian telah disusupi unsur radikal.
Karena keterbatasan sumber daya militer, pemerintahan baru Suriah terpaksa menempuh jalan kompromi dan negosiasi dengan berbagai faksi, termasuk milisi-milisi semi-otonom. Namun, kegagalan dalam mencapai kesepakatan dengan Pasukan Demokratik Suriah (SDF) yang didominasi Kurdi di wilayah utara menjadi bukti tantangan berat yang mereka hadapi.
Sweida: Cermin Ketegangan Regional dan Ambisi “Israel”
Araud menegaskan bahwa krisis Sweida sangat mencerminkan situasi kacau tersebut. Di wilayah yang dikuasai milisi Druze dan dikenal sebagai pusat penyelundupan itu, pecah bentrokan antara kelompok Druze dan suku Badui. Intervensi pemerintah pun berujung malapetaka: puluhan tentara tewas, warga sipil dieksekusi.
Dalam situasi itu, “Israel” turun tangan melalui serangan udara yang menghentikan laju tentara Suriah, bahkan hingga ke wilayah dekat Istana Kepresidenan di Damaskus.
Menurut Araud, pesan “Israel” sangat jelas: menolak kembalinya tentara Suriah ke kawasan selatan dan menuntut zona “demiliterisasi” yang berada di bawah kontrol milisi Druze. Yang mengkhawatirkan, intervensi ini tidak mendapat perlawanan nyata dari komunitas internasional, yang mencerminkan dominasi “Israel” di wilayah tersebut.
Araud juga mengkritik keras sikap keras kepala “Israel” yang menolak penyelesaian politik melalui negosiasi, meskipun Presiden Ahmad Asy-Syaraa telah menunjukkan itikad baik untuk membuka dialog.
Tujuan “Israel”: Bukan Penyatuan, tapi Pemecahan Suriah
Sebagai mantan Direktur Jenderal Urusan Politik dan Keamanan di Kementerian Luar Negeri Prancis, Araud menyimpulkan bahwa “Israel” tidak menginginkan Suriah kembali bersatu sebagai satu negara, melainkan lebih suka melihatnya terpecah menjadi negara-negara kecil berdasarkan etnis dan agama.
Ia juga mencatat bahwa meskipun ada protes dari Turki dan negara-negara Arab, serta seruan dari Dewan Keamanan PBB untuk menghormati kedaulatan Suriah, semuanya tidak memiliki pengaruh berarti dalam membatasi agresi “Israel”.
Di akhir artikelnya, Araud memperingatkan: jika Presiden Asy-Syaraa tampak lemah di mata mayoritas Sunni akibat krisis Sweida, maka mereka bisa merasa terancam dan terdorong kembali mengangkat senjata. Hal ini berpotensi menyeret Suriah ke dalam spiral konflik baru yang tak terduga.
Analisa Gérard Araud menjadi pengingat penting bahwa Timur Tengah adalah kawasan rapuh dengan realitas yang sangat kompleks—dan bahwa kebijakan luar negeri yang didasarkan pada simplifikasi bisa membawa bencana.
(Samirmusa/arrahmah.id)
