Memuat...

Eksodus Tepi Barat: 40.000 Warga Terusir Akibat Operasi Iron Wall 'Israel'

Zarah Amala
Rabu, 11 Februari 2026 / 24 Syakban 1447 11:22
Eksodus Tepi Barat: 40.000 Warga Terusir Akibat Operasi Iron Wall 'Israel'
Puluhan ribu warga kamp bertahan hidup di pengungsian jangka panjang (Al Jazeera)

TEPI BARAT (Arrahmah.id) - Operasi militer 'Israel' berskala besar yang dikenal sebagai "Iron Wall" telah memaksa ribuan penduduk di wilayah utara Tepi Barat meninggalkan kamp-kamp pengungsian dalam gelombang eksodus jangka panjang yang telah berlangsung selama lebih dari satu tahun.

Berdasarkan data dari badan pengungsi PBB (UNRWA) dan komite lokal, eskalasi serangan militer yang kini berubah dari penggerebekan singkat menjadi kampanye berkepanjangan ini telah mengakibatkan lebih dari 40.000 warga Palestina kehilangan tempat tinggal.

Krisis ini berpusat di kamp-kamp pengungsian Jenin, Tulkarem, dan Nur Shams, di mana warga terpaksa berpencar ke wilayah-wilayah sekitarnya demi mencari keselamatan di tengah kondisi ekonomi dan sosial yang kian memburuk.

Laporan lapangan menunjukkan kehancuran infrastruktur yang sangat masif, dengan estimasi 1.750 unit rumah hancur total dan 3.650 lainnya mengalami kerusakan parah di wilayah Tulkarem dan Nur Shams saja. Serangan tersebut tidak hanya menyasar permukiman, tetapi juga melumpuhkan fasilitas ekonomi dengan hancurnya ratusan toko dan unit bisnis, serta rusaknya jaringan utilitas vital seperti air, listrik, dan sistem sanitasi secara menyeluruh.

Hal serupa terjadi di kamp Jenin, di mana sekitar 21.000 warga terpaksa mengungsi setelah 1.200 bangunan apartemen mereka rata dengan tanah, memaksa mereka mencari perlindungan di gedung-gedung universitas hingga tenda-tenda darurat yang minim fasilitas.

Di tengah situasi yang serba sulit, para pengungsi kini hidup dalam ketergantungan penuh pada bantuan kemanusiaan yang sangat minim. Meski bantuan subsidi sewa satu kali sebesar 900 dolar AS telah disalurkan melalui kerja sama internasional dan Otoritas Palestina, jumlah tersebut dianggap tidak mencukupi untuk memenuhi kebutuhan hidup selama satu tahun lebih masa pengungsian.

Para penyintas memberikan kesaksian memilukan tentang dipaksa keluar rumah di bawah ancaman senjata pada tengah malam, hingga harus bertahan hidup di dalam tenda-tenda dingin tanpa akses air bersih, sementara pertanyaan mengenai kapan mereka bisa kembali ke rumah tetap menjadi teka-teki yang belum terjawab. (zarahamala/arrahmah.id)

HeadlinePalestinapendudukantepi baratiron wall