GAZA (Arrahmah.id) - Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, menyatakan pada Selasa (10/2/2026) bahwa dirinya tengah mempertimbangkan pengiriman kapal induk kedua ke Timur Tengah, di tengah persiapan Washington dan Teheran untuk melanjutkan negosiasi guna meredam konflik baru. Ketegangan ini terjadi setelah pembicaraan awal yang difasilitasi oleh Oman pekan lalu, yang menurut pihak Teheran, telah menunjukkan adanya kesepahaman cukup bagi diplomasi untuk terus berlanjut.
Langkah Trump untuk memperkuat kehadiran militer ini menyusul aksi pengeboman situs nuklir Iran tahun lalu, serta ancaman intervensi militer saat pemerintah Iran melakukan tindakan keras terhadap aksi protes nasional bulan lalu. Dalam wawancara dengan media 'Israel', Trump menegaskan bahwa jika kesepakatan tidak tercapai, Amerika Serikat akan melakukan langkah yang "sangat keras" terhadap Iran.
Saat ini, kandidat kapal induk yang kemungkinan besar dikerahkan adalah USS George Washington dari Asia atau USS George H.W. Bush dari pantai timur AS, meski keduanya masih memerlukan waktu tempuh setidaknya satu pekan menuju Timur Tengah. Di sisi lain, Iran terus mengupayakan jalur diplomasi dengan mengirimkan penasihat Pemimpin Tertinggi, Ali Larijani, ke Oman dan Qatar untuk membahas kesepakatan yang "adil dan seimbang".
Meski demikian, terdapat perbedaan pandangan yang tajam terkait cakupan negosiasi; AS dan 'Israel' bersikeras menuntut pembatasan program rudal balistik Iran, sementara Teheran dengan tegas menyatakan bahwa persediaan rudal mereka tidak dapat dinegosiasikan dan hanya akan mempertimbangkan pengenceran uranium yang diperkaya jika seluruh sanksi finansial dicabut sepenuhnya.
Situasi ini memicu kekhawatiran regional, terutama dengan adanya temuan analisis citra satelit yang menunjukkan penumpukan peralatan militer AS di Pangkalan Al-Udeid, Qatar. Perdana Menteri 'Israel', Benjamin Netanyahu, diperkirakan akan menekan Trump dalam pertemuan di Washington untuk memastikan setiap kesepakatan mencakup pembatasan rudal Iran secara ketat. Di sisi lain, Wakil Presiden AS JD Vance menyatakan bahwa Presiden Trump-lah yang akan memegang keputusan akhir dalam menentukan "garis merah" selama proses negosiasi berlangsung.
Sementara harga minyak dunia mulai sedikit melandai seiring fokus para pedagang pada dinamika ini, dunia internasional tetap menanti apakah diplomasi kali ini mampu membuahkan hasil di tengah bayang-bayang kekuatan militer yang kian meningkat. (zarahamala/arrahmah.id)
