SWEIDA (Arrahmah.id) - Enam anggota pasukan keamanan Suriah telah terbunuh di kota Sweida yang didominasi oleh suku Druze, sebuah sumber keamanan mengatakan kepada Reuters, setelah mereka dikerahkan untuk menghentikan bentrokan sektarian yang mematikan yang dilaporkan oleh media lokal telah kembali terjadi pada Senin (14/7/2025).
Pertempuran pada Ahad (13/7) antara milisi Druze dan pejuang suku Badui merupakan yang pertama kalinya kekerasan sektarian meletus di dalam kota Sweida, setelah berbulan-bulan terjadi ketegangan di provinsi yang lebih luas.
Pertempuran tersebut menewaskan 30 orang dan mendorong pasukan keamanan Suriah untuk mengerahkan unit-unitnya ke kota tersebut untuk memulihkan ketenangan dan menjamin perjalanan yang aman bagi warga sipil yang ingin pergi, kementerian pertahanan mengatakan dalam sebuah pernyataan.
Namun bentrokan sengit kembali terjadi pada Senin, outlet berita lokal Sweida24 melaporkan. Sedikitnya enam tentara Suriah kemudian tewas, kata sumber kementerian pertahanan kepada Reuters.
Ini menandai episode terbaru pertumpahan darah sektarian di Suriah, di mana ketakutan di antara kelompok-kelompok minoritas telah melonjak sejak pasukan oposisi bersenjata menggulingkan Presiden Bashar al-Assad pada Desember, dan membentuk pemerintahan dan pasukan keamanan mereka sendiri.
Kelompok-kelompok oposisi Arab Sunni yang memerangi al-Assad selama perang, sepakat pada Desember untuk melebur ke dalam kementerian pertahanan, namun upaya untuk mengintegrasikan faksi-faksi bersenjata dari kelompok-kelompok minoritas -termasuk Druze dan Kurdi- sebagian besar terhenti.
Militer "Israel" mengatakan pada Senin bahwa mereka menyerang beberapa tank di sebuah kota di provinsi Sweida di Suriah selatan.
Di Suriah selatan, upaya-upaya tersebut semakin diperumit oleh kebijakan "Israel" yang menyatakan bahwa mereka tidak akan mengizinkan tentara baru Suriah untuk ditempatkan di selatan Damaskus dan bahwa Sweida dan provinsi-provinsi di sekitarnya harus menjadi zona demiliterisasi.
Menteri Dalam Negeri Anas Khattab mengatakan dalam sebuah pernyataan tertulis yang disiarkan di media pemerintah bahwa “ketidakhadiran lembaga-lembaga negara, terutama institusi militer dan keamanan, merupakan penyebab utama ketegangan yang sedang berlangsung di Sweida dan daerah-daerah sekitarnya.”
Kekerasan pada Ahad meletus setelah gelombang penculikan, termasuk penculikan seorang pedagang Druze pada Jumat di jalan raya yang menghubungkan Damaskus dan Sweida, kata para saksi mata (haninmazaya/arrahmah.id)
