Memuat...

Eskalasi di Gaza: Lima Warga Tewas, Operasi Penghancuran Massal Berlanjut, dan Rencana Pembukaan Perbatasan Rafah

Zarah Amala
Jumat, 23 Januari 2026 / 5 Syakban 1447 12:05
Eskalasi di Gaza: Lima Warga Tewas, Operasi Penghancuran Massal Berlanjut, dan Rencana Pembukaan Perbatasan Rafah
Para syuhada Palestina gugur akibat tembakan artileri 'Israel' di lingkungan Zeitoun, Kota Gaza (AFP)

GAZA (Arrahmah.id) - Sedikitnya lima warga Palestina tewas akibat serangan militer 'Israel' di Jalur Gaza pada Kamis (22/1/2026). Insiden ini terjadi di tengah berlanjutnya operasi penghancuran bangunan oleh militer Israel serta pengumuman rencana pembukaan kembali pintu perbatasan Rafah pada pekan depan.

Sumber medis dari unit ambulans dan darurat melaporkan bahwa empat warga tewas dalam serangan artileri di lingkungan Al-Zaitun, timur Kota Gaza. Para korban diketahui sedang mengumpulkan kayu bakar untuk pemanas ruangan di tengah krisis bahan bakar dan listrik yang melanda wilayah tersebut. Sementara itu, satu warga lainnya tewas ditembak di dekat bundaran Bani Suhaila, timur Khan Yunis.

Krisis kemanusiaan juga diperburuk oleh cuaca ekstrem. Kementerian Kesehatan Gaza mengonfirmasi kematian seorang bayi berusia tiga bulan bernama Ali Abu Zor di Deir al-Balah akibat suhu dingin yang membeku. Ali menjadi anak kedelapan yang meninggal dunia karena hipotermia sejak musim dingin dimulai.

Koresponden Al Jazeera melaporkan adanya operasi peledakan skala besar oleh pasukan 'Israel' di timur Khan Yunis pada Kamis pagi (22/1). Laporan dari Reuters yang didukung citra satelit mengungkapkan bahwa militer Israel telah menghancurkan sejumlah bangunan di luar garis gencatan senjata dan membangun benteng pertahanan baru di dekat "Garis Kuning" (Yellow Line), termasuk perluasan wilayah kontrol di lingkungan Al-Tuffah, Kota Gaza.

Ketua Komite Nasional Palestina untuk Pengelolaan Gaza, Ali Shaath, mengumumkan bahwa pintu perbatasan Rafah dijadwalkan akan dibuka kembali untuk dua arah pada pekan depan. Shaath menyebut perbatasan tersebut sebagai "urat nadi kehidupan dan simbol peluang" bagi masa depan warga Gaza yang bermartabat.

Namun, pengumuman ini direspons dengan sikap hati-hati dari pihak 'Israel'. Channel 12 'Israel' melaporkan bahwa kabinet keamanan baru akan bersidang pada Ahad mendatang untuk membahas masalah ini. Sumber politik Israel menegaskan bahwa pembukaan perbatasan masih terganjal isu pengembalian sisa jenazah sandera terakhir yang ditahan di Gaza, sesuai dengan syarat yang diajukan Tel Aviv dalam kerangka gencatan senjata.

Meskipun secara resmi perbatasan Rafah tidak berada di bawah kendali 'Israel' berdasarkan perjanjian tahun 2005, dalam praktiknya 'Israel' terus memberikan tekanan politik dan militer untuk mengontrol arus orang dan barang di gerbang utama yang menghubungkan Gaza dengan Mesir tersebut.

HeadlinePalestinaGazaserangan israel