Memuat...

Pengakuan Mengejutkan Lewat Rekaman Suara: Assad Perintahkan Penggunaan Senjata Kimia

Samir Musa
Jumat, 23 Januari 2026 / 5 Syakban 1447 09:40
Pengakuan Mengejutkan Lewat Rekaman Suara: Assad Perintahkan Penggunaan Senjata Kimia
Pengakuan Mengejutkan Lewat Rekaman Suara: Assad Perintahkan Penggunaan Senjata Kimia

DAMASKUS (Arrahmah.id) — Investigasi terbaru Al Jazeera kembali membuka salah satu lembaran paling gelap dalam kejahatan rezim Bashar Assad. Melalui rekaman suara yang bocor, terungkap pengakuan langsung bahwa keputusan penggunaan senjata kimia di Suriah diambil atas perintah Bashar Assad sendiri.

Fakta mengejutkan ini diungkap dalam program investigasi Al-Mutahhari berjudul “Kebocoran Sisa-Sisa Rezim Assad… Penetrasi Besar”, yang mendokumentasikan operasi penyusupan luas terhadap ponsel dan jaringan komunikasi para sisa-sisa rezim Assad, baik sebelum maupun setelah kejatuhannya.

Investigasi tersebut didasarkan pada ribuan menit rekaman suara, data bocor, dokumen rahasia, serta akun-akun komunikasi yang berhasil diretas. Hasilnya mengungkap gambaran utuh tentang jaringan kompleks yang bergerak secara sembunyi-sembunyi untuk mengatur ulang kekuatan politik, militer, dan keuangan rezim lama, dengan memanfaatkan uang, senjata, provokasi, serta aliansi regional, hanya setahun setelah tumbangnya kekuasaan Assad.

Perintah Langsung dari Assad

Bagian paling berbahaya dari laporan ini adalah hasil penyadapan langsung terhadap percakapan telepon Mayor Jenderal Bassam al-Hassan, penasihat keamanan Assad sekaligus penanggung jawab utama kasus senjata kimia rezim sebelumnya. Nama al-Hassan dikenal luas sebagai figur sentral dalam program kimia Suriah, dan juga terlibat dalam kasus hilangnya jurnalis Amerika, Austin Tice.

Dalam salah satu percakapan yang terdokumentasi, Bassam al-Hassan secara gamblang menyatakan bahwa keputusan penggunaan senjata kimia datang langsung dari Bashar Assad. Ia menyebut bahwa Assad memerintahkan Badi’ Ali untuk melakukan koordinasi dengan Angkatan Udara, bekerja sama dengan Brigadir Ghassan Abbas, kepala unit senjata kimia rezim, yang kemudian dilaporkan meninggal dunia akibat serangan jantung.

Pengakuan ini menjadi salah satu bukti paling berbahaya yang pernah terungkap, karena secara langsung mengaitkan kepala rezim Assad dengan keputusan penggunaan senjata pemusnah massal terhadap rakyatnya sendiri.

Konflik Internal dan Perebutan Kekuasaan

Investigasi Al-Mutahhari tidak hanya menyoroti ملف senjata kimia, tetapi juga membuka konflik internal yang tajam di antara tokoh-tokoh utama rezim lama. Rekaman percakapan menunjukkan pertengkaran sengit antara Ayman Jaber dan Suhail al-Hassan di Moskow, yang dipicu oleh perebutan uang dan pengaruh.

Selain itu, laporan tersebut mendokumentasikan adanya kerja sama lapangan dengan pihak-pihak Iran dan Rusia, serta upaya pembentukan ulang pasukan militer rahasia di kawasan pesisir Suriah, sebagai bagian dari rencana kebangkitan kembali jaringan lama rezim.

Menariknya, investigasi ini mengungkap bahwa proses penetrasi tidak hanya bersifat teknis. Operasi tersebut juga melibatkan pertemuan langsung, teknik rekayasa sosial tingkat tinggi, penyamaran, dan jebakan psikologis. Seluruh rangkaian ini dipimpin oleh seorang pria bernama Musa, yang mengaku pernah menjadi ajudan pribadi Bashar Assad antara tahun 2008 hingga 2012, sebelum akhirnya berbalik arah dan terlibat dalam pendokumentasian aktivitas para flul serta berkoordinasi dengan pemerintah Suriah saat ini.

Membuka Kembali Dosa Besar Rezim Assad

Melalui kebocoran yang belum pernah terjadi sebelumnya ini, Al-Mutahhari kembali membuka salah satu kasus senjata kimia paling berbahaya dalam sejarah kejahatan rezim Assad: penggunaan senjata kimia. Investigasi ini menyoroti secara rinci mekanisme pengambilan keputusan, rantai komando, serta tanggung jawab langsung para petinggi rezim.

Di tengah tuntutan internasional yang terus bergema agar para pelaku kejahatan perang di Suriah diadili dan tidak dibiarkan lolos dari hukuman, pengakuan ini menjadi bukti baru yang semakin memperkuat desakan untuk mengadili Bashar Assad dan kroni-kroninya atas kejahatan terhadap kemanusiaan.

(Samirmusa/arrahmah.id)

SuriahHeadlinebashar assad