GAZA (Arrahmah.id) - Gerakan Perlawanan Islam (Hamas) mengeluarkan pernyataan keras yang mengutuk keputusan Presiden Amerika Serikat Donald Trump untuk menyertakan Perdana Menteri 'Israel' Benjamin Netanyahu ke dalam "Dewan Perdamaian" (Peace Board). Hamas menilai langkah tersebut mencederai prinsip keadilan internasional.
Dalam pernyataan resminya pada Kamis (22/1/2026), Hamas menegaskan bahwa pelibatan Netanyahu adalah indikator berbahaya yang bertentangan dengan upaya akuntabilitas global. Hal ini merujuk pada status Netanyahu yang saat ini merupakan buronan Mahkamah Pidana Internasional (ICC) atas tuduhan kejahatan perang di Jalur Gaza.
"Langkah ini sangat kontradiktif. Bagaimana mungkin seseorang yang dicari oleh pengadilan internasional atas tuduhan genosida dan kejahatan kemanusiaan dilibatkan dalam lembaga yang menyandang nama perdamaian," tulis pernyataan Hamas.
Hamas menuduh Netanyahu terus berupaya menyabotase kesepakatan gencatan senjata yang telah berjalan selama tiga bulan. Mereka melaporkan bahwa pasukan 'Israel' masih terus melakukan pelanggaran di lapangan, termasuk penargetan area pemukiman, fasilitas publik, dan pusat pengungsian di Gaza.
Meskipun kantor Perdana Menteri 'Israel' menyatakan telah menerima undangan Trump pada Rabu (21/1/2026), Netanyahu terpantau absen dalam acara peresmian dewan tersebut yang berlangsung di Davos, Swiss, pada Kamis (22/1).
Absennya Netanyahu diduga kuat berkaitan dengan pernyataan otoritas Swiss yang menegaskan komitmen mereka untuk melaksanakan surat perintah penangkapan ICC jika pemimpin Israel tersebut menginjakkan kaki di wilayah mereka. Pada November 2024, ICC secara resmi merilis mandat penangkapan bagi Netanyahu dan mantan menteri pertahanan Yoav Gallant atas tindakan militer di Gaza yang telah menewaskan lebih dari 71.000 jiwa dan melukai 171.000 lainnya.
Hamas menegaskan bahwa stabilitas di Timur Tengah tidak akan tercapai tanpa mengakhiri pendudukan secara total dan menyeret para pejabat 'Israel' ke meja hijau untuk mempertanggungjawabkan kebijakan genosida serta kelaparan sistematis yang mereka terapkan. (zarahamala/arrahmah.id)
