GAZA (Arrahmah.id) -Pemimpin gerakan perlawanan Islam (Hamas), Tayseer Suleiman, menegaskan bahwa pendudukan 'Israel' sedang berupaya dengan segala cara untuk menghalangi apa yang telah disepakati terkait gencatan senjata dan pembukaan gerbang perbatasan Rafah yang dijadwalkan pada Ahad (1/2/2026). 'Israel' disebut mencoba memaksakan syarat-syarat baru serta mengendalikan mekanisme operasional gerbang tersebut.
Dalam pernyataannya kepada program Al-Jazeera Mubasher, Suleiman menjelaskan bahwa gerbang Rafah seharusnya dibuka sesuai dengan ketentuan perjanjian gencatan senjata. Ia menambahkan bahwa pihak pendudukan mencoba mengulang apa yang mereka lakukan pada 2005 dengan memaksakan pengawasan langsung maupun tidak langsung. Menurutnya, perilaku ini merupakan bagian dari upaya permanen 'Israel' untuk menjadikan diri mereka pihak yang mengendalikan detail-detail urusan kemanusiaan murni.
Suleiman menyatakan bahwa posisi Hamas sangat jelas, mereka berupaya melanjutkan ke tahap kedua dari perjanjian yang menjamin pembukaan gerbang Rafah di bawah pengelolaan Mesir-Palestina. Hal ini penting untuk memungkinkan keluarnya pasien, korban luka, pelajar, serta kasus-kasus kemanusiaan mendesak lainnya guna meringankan penderitaan penduduk Jalur Gaza.
Pemimpin Hamas tersebut menjelaskan bahwa ribuan warga Palestina membutuhkan akses keluar dari Gaza untuk mendapatkan perawatan medis di tengah kondisi kesehatan yang katastropik. Ia menekankan bahwa secara historis, gerbang Rafah adalah jalur utama bagi pasien dari Gaza, mengingat kontrol ketat 'Israel' atas pintu perbatasan lainnya.
Menanggapi laporan mengenai kendali 'Israel' atas wilayah sekitar gerbang, Suleiman menegaskan bahwa perjanjian tersebut menetapkan penarikan mundur tentara pendudukan dari "Zona Kuning" (Yellow Zone), termasuk area sekitar gerbang Rafah, selama tahap kedua. Hal ini seharusnya memungkinkan adanya manajemen bersama antara Mesir dan Palestina.
Ia menuding pihak pendudukan sengaja menerapkan kebijakan fragmentasi wilayah (memutus jalur antar wilayah) untuk menekan warga Palestina dan memperlama proses negosiasi.
Suleiman juga menunjukkan bahwa gerbang Rafah merupakan urat nadi strategis untuk memasukkan barang dan bantuan kemanusiaan dengan harga yang lebih murah dibandingkan melalui gerbang yang dikontrol langsung oleh 'Israel'. Ia menyerukan kepada pihak-pihak penjamin (mediator) untuk mengambil sikap tegas terhadap apa yang ia sebut sebagai tindakan sewenang-wenang 'Israel'.
Sebelumnya, 'Israel' telah mengumumkan niatnya untuk membuka kembali gerbang perbatasan Rafah antara Jalur Gaza dan Mesir mulai Ahad (1/2). Namun, 'Israel' menekankan bahwa pembukaan tersebut harus mengikuti pengaturan keamanan ketat yang membatasi pergerakan lalu lintas dan tetap menjaga kontrol tidak langsung 'Israel' atas salah satu akses terpenting Gaza ke dunia luar tersebut. (zarahamala/arrahmah.id)
