NAMIBIA (Arrahmah.id) - Kapal induk Amerika Serikat, USS George H.W. Bush, dilaporkan tengah melintasi perairan Namibia di Samudra Atlantik lepas pantai barat daya Afrika. Menurut laporan Institut Angkatan Laut AS (USNI), kapal induk ini sedang dalam perjalanan untuk bergabung dengan konsentrasi armada tempur besar di Laut Arab guna mendukung blokade maritim di Selat Hormuz.
Keputusan untuk mengambil rute jauh dengan mengitari Benua Afrika, alih-alih melewati Selat Gibraltar dan Laut Mediterania, menjadi sorotan strategis. Jalur ini sengaja dipilih untuk menghindari Laut Merah dan Selat Bab al-Mandab yang saat ini menjadi zona bahaya akibat serangan pesawat nirawak dan rudal dari kelompok Houtsi.
Pergerakan USS George H.W. Bush ini menegaskan kebijakan baru militer AS dalam menghindari titik panas di Laut Merah. Sejak USS Dwight D. Eisenhower melintas pada Desember 2023, belum ada lagi kapal induk AS yang berani melewati Bab al-Mandab.
Dalam misi kali ini, USS George H.W. Bush dikawal oleh tiga kapal perusak berkemampuan tinggi, USS Donald Cook, USS Mason, dan USS Ross
Eskalasi Pasca Gagalnya Negosiasi Islamabad
Pengerahan armada tambahan ini merupakan perintah langsung dari Presiden Donald Trump menyusul kegagalan perundingan damai di Islamabad pada 11 April lalu. Dengan penolakan Teheran terhadap syarat-syarat AS, Washington mulai menerapkan blokade maritim penuh terhadap Selat Hormuz yang telah ditutup oleh Iran sejak pecahnya perang pada 28 Februari 2026.
Saat ini, AS telah menumpuk kekuatan militer yang sangat besar di Laut Arab, di antaranya: kapal induk USS Abraham Lincoln dan USS George H.W. Bush (dalam perjalanan), 11 kapal perusak, 3 kapal serbu amfibi (termasuk USS Tripoli), kapal pendarat tank (USS Rushmore), dan kapal tempur pesisir.
Meskipun terjadi penumpukan besar-besaran di Laut Arab, pejabat Departemen Pertahanan AS yang dikutip oleh Associated Press menegaskan bahwa saat ini tidak ada kapal perang AS yang berada di dalam perairan Teluk. Posisi armada tetap berada di perairan internasional Laut Arab untuk menjaga fleksibilitas serangan sambil meminimalkan risiko terjebak di ruang sempit Teluk.
Pengamat militer menilai mobilisasi USS George H.W. Bush, kapal induk yang mulai bertugas sejak 2009 dan memiliki sejarah operasi di Irak serta Suriah, sebagai pesan tegas kepada Teheran bahwa AS siap menggunakan instrumen kekuatan penuh untuk memaksakan pembukaan kembali Selat Hormuz bagi navigasi dunia. (zarahamala/arrahmah.id)
