LONDON (Arrahmah.id) - Aliansi NATO secara resmi menyatakan tidak akan terlibat dalam rencana Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, untuk memblokade Selat Hormuz. Para sekutu utama, termasuk Inggris dan Prancis, lebih memilih untuk melakukan intervensi hanya setelah pertempuran berakhir, sebuah langkah yang diprediksi akan memicu kemarahan Trump dan memperburuk ketegangan internal aliansi.
Penolakan ini muncul setelah Trump mengumumkan pada Senin (13/4/2026) bahwa militer AS akan bekerja sama dengan negara lain untuk menutup lalu lintas maritim menuju dan dari pelabuhan Iran. Langkah drastis ini diambil Washington menyusul kegagalan perundingan akhir pekan untuk mengakhiri konflik enam pekan dengan Teheran.
Perdana Menteri Inggris, Keir Starmer, menegaskan sikapnya dalam wawancara dengan BBC. "Kami tidak mendukung blokade tersebut," ujarnya. "Keputusan saya sudah sangat jelas bahwa seberapa pun besarnya tekanan yang ada, kami tidak akan terseret ke dalam perang."
Senada dengan Inggris, Presiden Prancis Emmanuel Macron melalui platform X mengumumkan rencana penyelenggaraan konferensi internasional untuk membentuk misi multilateral yang bertujuan memulihkan navigasi di selat tersebut. Macron menekankan bahwa misi ini akan bersifat defensif dan terpisah dari pihak-pihak yang sedang berperang.
Armada internasional hanya akan dikerahkan segera setelah situasi memungkinkan atau saat konflik telah mereda. Misi ini bertujuan menetapkan aturan lintas aman dan koordinasi kapal militer untuk mengawal kapal tanker secara independen.
Ancaman Trump Terhadap NATO
Penolakan sekutu Eropa ini menjadi titik gesekan terbaru bagi Trump, yang sebelumnya telah mengancam akan menarik diri dari aliansi militer tersebut. Trump juga sedang mempertimbangkan penarikan sebagian pasukan AS dari Eropa setelah beberapa negara menolak memberikan izin lintas udara bagi pesawat militer AS untuk menyerang Iran.
Sekretaris Jenderal NATO, Mark Rutte, sebelumnya mengisyaratkan bahwa NATO dapat berperan jika 32 anggotanya sepakat. Namun, mayoritas negara Eropa hanya bersedia membantu jika ada kesepakatan damai yang tahan lama dengan Iran.
Sumber diplomatik Prancis menyebutkan bahwa pertemuan untuk menyusun rencana misi ini mungkin akan dilakukan secepatnya pada Kamis mendatang (16/4) di Paris atau London. Pertemuan tersebut direncanakan melibatkan sekitar 30 negara, termasuk negara-negara Teluk, India, Yunani, Spanyol, Italia, Belanda, dan Swedia.
Rencana pembentukan kekuatan internasional ini dianggap rumit oleh Menteri Luar Negeri Turki, Hakan Fidan, yang mendesak agar krisis Selat Hormuz diselesaikan melalui jalur diplomasi. Ia menyerukan agar NATO menata ulang hubungannya dengan Trump pada KTT di Ankara, Juli mendatang. (zarahamala/arrahmah.id)
