Memuat...

Interogasi dan Intimidasi, Kelompok Abu Syabab Kendalikan Perlintasan Rafah di Bawah Restu 'Israel'

Zarah Amala
Rabu, 4 Februari 2026 / 17 Syakban 1447 11:22
Interogasi dan Intimidasi, Kelompok Abu Syabab Kendalikan Perlintasan Rafah di Bawah Restu 'Israel'
Hanya sebagian kecil warga Palestina yang terluka dan sakit diizinkan meninggalkan Gaza untuk mendapatkan perawatan medis; yang lainnya dipulangkan. (Foto: QNN)

RAFAH (Arrahmah.id) - Pembukaan kembali gerbang perbatasan Rafah yang sempat dipromosikan sebagai terobosan kemanusiaan kini menuai kritik tajam. Fakta di lapangan menunjukkan bahwa operasional perlintasan ini telah dikonfigurasi ulang menjadi instrumen kontrol militer yang melibatkan interogasi panjang, intimidasi, hingga penggunaan kelompok proksi bersenjata.

Meskipun perjanjian awal menjanjikan kepulangan 50 warga dan keberangkatan 50 pasien setiap harinya, realita pada hari-hari pertama menunjukkan angka yang jauh lebih rendah. Hanya 12 warga (wanita dan anak-anak) yang diizinkan masuk ke Gaza, sementara puluhan lainnya dipulangkan kembali ke Mesir tanpa alasan yang jelas.

Testimoni dari warga yang berhasil masuk mengungkap pengalaman traumatis di pos pemeriksaan yang dikendalikan 'Israel'. Sejumlah wanita melaporkan bahwa mereka ditutup matanya, tangan diikat, dan diinterogasi selama berjam-jam mengenai afiliasi politik hingga peristiwa 7 Oktober.

Para interogator dilaporkan menekan warga mengenai niat mereka untuk "bermigrasi" secara permanen dari Gaza. Beberapa warga bahkan diancam akan dipisahkan dari anak-anak mereka jika menolak bekerja sama. "Ini adalah penyiksaan psikologis," ujar salah satu warga yang menggambarkan situasi tersebut sebagai upaya untuk menghalangi warga Palestina kembali ke tanah mereka.

Peran Kelompok Bersenjata Abu Shabab

Satu poin yang paling mengkhawatirkan adalah keterlibatan kelompok bersenjata yang terkait dengan Yasser Abu Shabab. Saksi mata melaporkan bahwa kelompok ini beroperasi di dekat pos pemeriksaan 'Israel', mengawal bus, dan menyerahkan warga Palestina secara langsung kepada tentara Israel untuk diinterogasi.

Keterlibatan Abu Shabab dipandang sebagai sistem "kontrol proksi," di mana otoritas 'Israel' menggunakan perantara lokal untuk memperketat pengawasan dan dominasi, sekaligus mengaburkan akuntabilitas internasional atas pelanggaran hak asasi yang terjadi di perbatasan.

Laporan konsisten menyebutkan bahwa pasukan 'Israel' menyita barang-barang pribadi mulai dari obat-obatan hingga mainan anak-anak. "Mereka merampas mainan anak saya dan mengatakan itu dilarang. Itu menghancurkan hati anak saya setelah berbulan-bulan menderita," ungkap seorang ibu.

Di sisi medis, Dr. Bassam Zaqout menyatakan bahwa kuota keberangkatan saat ini tidak berarti dibandingkan dengan 20.000 pasien yang menunggu perawatan di luar negeri. Dengan kecepatan saat ini, dibutuhkan waktu bertahun-tahun untuk mengevakuasi semua pasien, sementara sistem kesehatan Gaza telah runtuh total.

Bagi banyak warga Palestina, Rafah kini bukan lagi jalur penyelamat, melainkan perpanjangan dari arsitektur pengepungan 'Israel' yang menggabungkan pengawasan digital, interogasi fisik, dan penindasan melalui proksi. Keberadaan pemantau Eropa dan koordinasi Mesir terbukti tidak mampu mengurangi kontrol absolut keamanan 'Israel' atas siapa yang boleh melintas. (zarahamala/arrahmah.id)

HeadlineIsraelPalestinaabu syababperlintasan rafah