Memuat...

Jelang Perundingan Istanbul, 'Israel' Ragukan Diplomasi AS-Iran Terkait Program Rudal

Zarah Amala
Rabu, 4 Februari 2026 / 17 Syakban 1447 10:54
Jelang Perundingan Istanbul, 'Israel' Ragukan Diplomasi AS-Iran Terkait Program Rudal
Utusan AS Steve Witkoff (kiri) dan Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi dijadwalkan bertemu di Istanbul. (Foto: Wikimedia Commons, media Iran. Desain: Palestine Chronicle)

TEL AVIV (Arrahmah.id) - Pejabat militer dan analis 'Israel' secara terbuka menyatakan keraguan mereka terhadap efektivitas negosiasi antara Amerika Serikat dan Iran yang dijadwalkan dimulai pada Jumat (6/2/2026) di Istanbul, Turki. Tel Aviv memperingatkan bahwa pembicaraan tersebut kemungkinan besar tidak akan menyentuh program rudal balistik Iran, yang dianggap Israel sebagai ancaman eksistensial.

Kekhawatiran ini akan disampaikan langsung kepada utusan khusus AS, Steve Witkoff, yang tiba di 'Israel' pada Selasa (3/2) untuk bertemu dengan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu dan pejabat pertahanan senior. 'Israel' khawatir Washington hanya akan memprioritaskan de-eskalasi nuklir dan mengabaikan pengembangan rudal jarak jauh Iran.

Analis militer dari harian Maariv, Avi Ashkenazi, menyebutkan bahwa 'Israel' takut perundingan ini justru akan "menormalisasi" persenjataan rudal Iran dengan mengecualikannya dari kerangka negosiasi. 'Israel' dilaporkan telah membagikan data intelijen kepada AS yang merinci upaya Iran membangun kembali kapasitas produksi rudal dan memperkuat sistem pertahanan udara mereka setelah konfrontasi pada Juni 2025.

Pihak militer 'Israel' menegaskan bahwa meskipun jalur diplomasi sedang berjalan, mereka tetap dalam status siaga tinggi untuk skenario "defensif maupun ofensif." 'Israel' bersikeras bahwa opsi militer tetap berada di atas meja jika hasil diplomasi tidak memuaskan.

Negosiasi di Istanbul ini merupakan pembicaraan tidak langsung pertama sejak runtuhnya dialog pasca serangan 'Israel' ke wilayah Iran pada Juni 2025. Delegasi Iran akan dipimpin oleh Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi, sementara Steve Witkoff memimpin delegasi AS.

Beberapa negara regional seperti Turki, Qatar, Mesir, Oman, Arab Saudi, Pakistan, dan UEA turut diundang untuk mendukung upaya diplomatik ini guna mencegah konflik terbuka. Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, menyatakan kesiapan untuk bernegosiasi berdasarkan "keadilan dan martabat," namun secara tegas menolak ancaman atau tenggat waktu yang dipaksakan oleh pihak Barat.

Analis dari Haaretz menunjukkan bahwa Tel Aviv memandang pembicaraan Istanbul sebagai "kesempatan terakhir" bagi Iran untuk menghindari konfrontasi baru di bawah pemerintahan Donald Trump. Namun, mereka juga mengingatkan pada preseden Juni 2025, di mana pembukaan jalur diplomasi berakhir dengan persetujuan diam-diam AS terhadap serangan 'Israel' ke infrastruktur nuklir Iran.

Di sisi lain, Teheran menghubungkan stabilitas regional dengan berakhirnya pelanggaran militer 'Israel' di Gaza, sementara 'Israel' berusaha memisahkan isu negosiasi senjata dengan tindakan militer mereka di lapangan. (zarahamala/arrahmah.id)

IranHeadlinerudalASIstanbulperundingan