Memuat...

Putra Mendiang Penguasa Libya, Gaddafi, Tewas Dibunuh oleh Geng Bersenjata

Zarah Amala
Rabu, 4 Februari 2026 / 17 Syakban 1447 11:42
Putra Mendiang Penguasa Libya, Gaddafi, Tewas Dibunuh oleh Geng Bersenjata
Saif al-Islam, yang terlihat di sini pada Agustus 2011, dianggap sebagai penerus ayahnya [Getty]

ZINTAN (Arrahmah.id) - Saif al-Islam Gaddafi, putra dari mendiang pemimpin Libya Muammar Gaddafi, tewas pada Selasa (3/2/2026) setelah sekelompok pria bersenjata menyerbu kediamannya di Zintan, Libya Barat. Kabar kematian pria berusia 53 tahun tersebut dikonfirmasi oleh pengacara Prancis-nya, Marcel Ceccaldi, kepada kantor berita AFP.

"Dia tewas hari ini pukul 14.00 (waktu setempat)... di rumahnya oleh unit komando beranggotakan empat orang," ujar Ceccaldi. Menurut penasihat Saif, Abdullah Othman Abdurrahim, para pelaku yang tidak teridentifikasi tersebut melumpuhkan kamera pengawas sebelum melakukan eksekusi.

Saif al-Islam lama digadang-gadang sebagai penerus ayahnya dan dianggap sebagai "perdana menteri de facto" Libya sebelum revolusi Arab Spring 2011. Meskipun sempat mencitrakan diri sebagai tokoh moderat dan reformis, reputasinya hancur saat ia menjanjikan "sungai darah" untuk menumpas pemberontakan terhadap kekuasaan ayahnya.

Setelah penangkapan pada November 2011, Saif menjadi buronan Mahkamah Pidana Internasional (ICC) atas dugaan kejahatan terhadap kemanusiaan. Meski sempat dijatuhi hukuman mati oleh pengadilan di Tripoli pada 2015, ia kemudian mendapatkan amnesti. Keberadaannya sering berpindah-pindah sebelum akhirnya menetap di Zintan.

Kematian Saif al-Islam terjadi di tengah kondisi Libya yang masih terpecah antara pemerintahan yang didukung PBB di Tripoli dan administrasi timur yang didukung oleh Jenderal Khalifa Haftar. Pakar Libya, Emadeddin Badi, menilai kematian ini akan mengubah dinamika elektoral secara signifikan.

"Kematiannya kemungkinan akan menjadikannya martir bagi sebagian besar populasi, sekaligus menghilangkan hambatan utama bagi pelaksanaan pemilihan presiden," tulis Badi melalui X. Sebelumnya, Saif sempat mengumumkan pencalonan dirinya dalam pemilu presiden 2021, namun proses tersebut ditunda tanpa batas waktu.

Marcel Ceccaldi mengungkapkan bahwa Saif sempat diperingatkan mengenai masalah keamanan beberapa hari sebelum kejadian. "Kepala suku (Gaddafi) sempat menelepon Saif dan menawarkan pengawalan tambahan, namun Saif menolaknya," ungkap Ceccaldi.

Mantan juru bicara Muammar Gaddafi, Moussa Ibrahim, menyebut pembunuhan ini sebagai bentuk pengkhianatan. Ia mengklaim baru berbicara dengan Saif dua hari lalu mengenai visinya untuk Libya yang bersatu dan berdaulat. Hingga saat ini, belum ada pihak yang mengaku bertanggung jawab atas serangan tersebut.

Tewasnya Saif al-Islam kemungkinan besar akan memperkuat posisi Jenderal Khalifa Haftar di Timur dan memaksa faksi-faksi di Tripoli untuk segera melakukan konsolidasi sebelum massa pro-Gaddafi mengorganisir pemberontakan bersenjata baru. (zarahamala/arrahmah.id)

libyaHeadlinepembunuhanmuammar gaddafisaif al islam