TEPI BARAT (Arrahmah.id) - Pasukan pendudukan 'Israel' melancarkan serangkaian serangan ke berbagai kota dan wilayah di Tepi Barat pada Ahad (8/2/2026), disertai dengan pengusiran paksa sejumlah keluarga Palestina dari kediaman mereka di selatan Jenin. Di Qalqilya, kantor berita Wafa melaporkan bahwa militer 'Israel' merangsek masuk melalui pintu timur dan menyebar di titik-titik strategis seperti kawasan pasar, Jaljuliyah, serta area sekitar balai kota. Petugas melakukan penggeledahan dari rumah ke rumah, termasuk kediaman keluarga Al-Houtari dan Al-Baz, sembari menembakkan gas air mata dan menghambat mobilitas warga di jalanan.
Ketegangan juga meningkat di Tulkarm, di mana pasukan 'Israel' menyerbu kota Attil dengan sejumlah kendaraan militer. Mereka menyasar toko-toko pertanian dan pupuk untuk digeledah serta melakukan interogasi lapangan terhadap pemiliknya. Selain itu, tentara 'Israel' menghentikan kendaraan yang melintas dan melakukan pemeriksaan identitas terhadap para pemuda secara sewenang-wenang. Operasi serupa terjadi di kota Qaffin, di mana patroli jalan kaki dikerahkan di bagian barat kota untuk melakukan penyisiran skala besar.
Di wilayah selatan Jenin, otoritas 'Israel' memaksa sejumlah keluarga Palestina untuk mengevakuasi tempat tinggal mereka di kota Arraba. Kepala Kota Arraba, Ahmed Al-Arda, menyatakan bahwa keluarga-keluarga peternak tersebut diberi tenggat waktu hingga Selasa depan untuk mengosongkan lahan mereka. Langkah ini dilaporkan sebagai persiapan untuk membangun kembali pangkalan militer 'Israel' yang sebelumnya telah dikosongkan pada 2005. Ancaman penangkapan juga dilontarkan jika warga tidak mematuhi perintah pengosongan tersebut.
Sementara itu, gelombang serangan dari pemukim ilegal 'Israel' juga terus berlanjut. Di utara Ramallah, para pemukim menyerang rumah keluarga Abu Awad di kota Turmus Ayya dalam upaya untuk mengisolasi mereka secara paksa. Serangan ini terjadi menyusul penghancuran ribuan dunam lahan dan pencabutan lebih dari 4.000 pohon zaitun oleh pasukan 'Israel' di wilayah tersebut demi kepentingan perluasan pos pemukiman baru. Di Nablus, para pemukim mengganggu pengerjaan tangki air di sumur bor milik desa Beit Furik dan Beit Djan, serta memblokade jalan menuju Khirbet al-Marajim. Serangkaian tindakan ini dipandang oleh warga Palestina sebagai upaya sistematis untuk mempercepat aneksasi resmi Tepi Barat. (zarahamala/arrahmah.id)
