Memuat...

Perang Terbuka di Kabinet 'Israel', Gallant Tuding Netanyahu Rekayasa Fakta 7 Oktober

Zarah Amala
Senin, 9 Februari 2026 / 22 Syakban 1447 10:30
Perang Terbuka di Kabinet 'Israel', Gallant Tuding Netanyahu Rekayasa Fakta 7 Oktober
Mantan menteri pertahanan 'Israel', Yoav Gallant, menuduh Benjamin Netanyahu berbohong tentang serangan Hamas pada 7 Oktober untuk menghindari tanggung jawab. [Getty]

TEL AVIV (Arrahmah.id) - Mantan Menteri Pertahanan 'Israel', Yoav Gallant, meluncurkan serangan verbal tajam terhadap Perdana Menteri Benjamin Netanyahu dalam wawancara dengan Channel 12 pada Sabtu (7/2/2026). Gallant secara terang-terangan menyebut Netanyahu sebagai "pembohong" dan menuduhnya membangun narasi palsu terkait kegagalan serangan 7 Oktober 2023 demi menyelamatkan citra politiknya.

Pernyataan keras ini muncul sebagai respons atas dokumen setebal 55 halaman yang diajukan Netanyahu kepada Pengawas Negara (State Comptroller). Dokumen tersebut berisi pembelaan diri Netanyahu yang menyalahkan rival politik serta petinggi keamanan atas jebolnya pertahanan 'Israel' saat serangan lintas batas pimpinan Hamas terjadi.

Gallant, yang dicopot dari jabatannya pada November 2024, menolak mentah-mentah dokumen tersebut dan menyebutnya sebagai "distorsi realita". Ia menuduh Netanyahu sengaja mengadu domba para menteri kabinet dengan jajaran kepemimpinan keamanan 'Israel' (IDF dan Shin Bet).

"Setelah kegagalan besar pada 7 Oktober, ketika tentara dan Shin Bet bertempur dengan gagah berani di garis depan, Netanyahu justru menikam mereka dari belakang. Ia menghasut seluruh menteri pemerintah melawan mereka dan mempresentasikannya kepada publik," tegas Gallant. Ia menambahkan bahwa prioritas utama Netanyahu adalah dirinya sendiri, kemudian pemerintahannya, baru kemudian kepentingan negara.

Dalam wawancara tersebut, Gallant juga membantah klaim Netanyahu yang menyebutkan bahwa kematian tentara 'Israel' di Gaza disebabkan oleh embargo senjata yang sempat diberlakukan oleh pemerintahan AS di bawah Joe Biden. Gallant menyatakan bahwa meskipun ada kesulitan logistik akibat manuver diplomatik Amerika, kematian tentara tersebut "sama sekali bukan karena kekurangan amunisi".

Pihak yang dekat dengan Netanyahu segera memberikan balasan melalui Channel 12, menuduh balik Gallant sebagai pihak yang sering kali memberikan pemberitahuan awal kepada Amerika sebelum bertindak, berbeda dengan perdana menteri yang diklaim bertindak tanpa ragu.

Selain Gallant, mantan Panglima Militer 'Israel' Gadi Eisenkot juga melontarkan kritik keras. Dalam suratnya kepada Pengawas Negara, Matanyahu Englman, Eisenkot menyebut dokumen pembelaan Netanyahu sebagai "pembelaan yang direkayasa" (fabricated defence). Eisenkot menyatakan kesiapannya untuk memberikan kesaksian demi meluruskan fakta terkait masa jabatannya sebagai panglima.

Kecaman ini memperdalam krisis kepercayaan di internal elit politik dan militer 'Israel'. Netanyahu sendiri hingga kini tetap menolak untuk menerima tanggung jawab langsung atas kegagalan intelijen dan kebijakan yang menyebabkan tewasnya sekitar 1.150 orang dalam serangan 7 Oktober tersebut. (zarahamala/arrahmah.id)

HeadlineIsraelbenjamin netanyahuyoav gallant