GAZA (Arrahmah.id) - Militer 'Israel' berencana melancarkan ofensif baru di Gaza pada Maret mendatang untuk merebut lebih banyak wilayah dan mendorong Garis Kuning (Yellow Line) lebih jauh ke arah barat hingga mendekati pesisir Jalur Gaza. Hal ini dilaporkan Times of Israel dengan mengutip sejumlah pejabat.
Meski gencatan senjata semakin mendekati fase kedua, militer 'Israel' disebut telah menyusun rencana ofensif tersebut dengan alasan gagalnya upaya melucuti senjata Hamas, sebagaimana dikutip dari pernyataan seorang diplomat Arab.
Pada 10 Oktober 2025, Amerika Serikat memediasi gencatan senjata yang membuat pasukan 'Israel' mundur ke Garis Kuning, yang memberi mereka kendali atas lebih dari separuh wilayah Gaza, sekitar 53 persen dari total Jalur Gaza.
Operasi yang direncanakan pada Maret itu disebut akan berfokus pada Kota Gaza, dan memungkinkan 'Israel' memperluas wilayah yang berada di bawah kendalinya.
Juru bicara Hamas, Hazem Qassem, pada Sabtu (10/1/2026) mengatakan bahwa kelompoknya telah mengambil keputusan jelas untuk membubarkan badan-badan pemerintahan yang mengelola urusan Jalur Gaza dan menyerahkannya kepada komite teknokrat.
Hamas menuduh 'Israel' melanggar perjanjian gencatan senjata dan menghambat transisi menuju fase kedua dari rencana Gaza yang didukung AS, yang mencakup pembentukan pasukan stabilisasi internasional.
Perdana Menteri 'Israel' Benjamin Netanyahu menentang keterlibatan Turki dalam pasukan tersebut, sikap yang disebut telah membuat calon mitra lain, seperti Azerbaijan, Pakistan, Arab Saudi, dan Indonesia, enggan mengirim pasukan.
'Israel' Israel telah berulang kali melanggar gencatan senjata, menewaskan 439 warga Palestina dalam tiga bulan terakhir melalui hampir 1.200 pelanggaran, termasuk serangan udara, penembakan artileri, dan penghancuran rumah-rumah.
“Kami menyerukan kepada para mediator dan negara-negara penjamin perjanjian gencatan senjata untuk mengecam pelanggaran berat ini, yang dilakukan di bawah pengawasan penjahat perang Netanyahu dengan dalih palsu dan direkayasa,” kata Hamas dalam pernyataannya pada Jumat (9/1).
Pasukan 'Israel' terus memberlakukan blokade terhadap Gaza, menutup perlintasan perbatasan dan membatasi bantuan kemanusiaan secara ketat.
Kepala UNRWA, Philippe Lazzarini, mengatakan bahwa bantuan “masih jauh dari memadai”.
“Orang-orang masih tinggal di tempat penampungan yang rapuh,” katanya kepada Anadolu Agency pada Kamis. “Yang datang hanyalah tenda-tenda yang tidak tahan air, yang tidak melindungi penduduk. Orang-orang masih kekurangan hampir segalanya.”
Negara-negara Arab dan Eropa menuntut agar 'Israel' memberikan akses yang berkelanjutan, dapat diprediksi, dan tanpa hambatan bagi organisasi kemanusiaan ke wilayah tersebut, terutama di tengah kondisi musim dingin yang berat. (zarahamala/arrahmah.id)
