GAZA (Arrahmah.id) - Dunia jurnalistik kembali berduka. Mohammed Washah, koresponden senior kanal Al Jazeera Mubasher, gugur setelah kendaraan yang dikendarainya dihantam rudal dari pesawat pengintai 'Israel' di Jalan Al-Rashid, selatan Kota Gaza, Senin (6/4/2026).
Washah sedang dalam perjalanan pulang menuju rumahnya di kamp pengungsi Al-Bureij setelah menghabiskan waktu bersama rekan-rekan jurnalisnya di tenda pers dekat Rumah Sakit Al-Shifa. Serangan langsung tersebut menewaskan Washah seketika bersama satu orang lainnya yang berada di dalam mobil, yang kemudian hangus terbakar di tepi jalan.
Profil Mohammed Washah: 20 Tahun Mengabdi pada Kebenaran
Lahir pada 1986 di kamp Al-Bureij, Washah memulai karier jurnalistiknya sejak usia muda pada 2006. Meski menempuh pendidikan di bidang analisis medis, gairahnya pada dunia media membawanya menempuh perjalanan profesi selama dua dekade.
Mohammed Washah mengawali dedikasi profesionalnya di dunia jurnalistik pada periode 2006 hingga 2010 dengan bertugas sebagai koresponden lapangan di TV Al-Aqsha, di mana ia mulai mengasah kemampuannya dalam meliput peristiwa-peristiwa krusial di Jalur Gaza.
Kariernya terus menanjak saat ia memutuskan untuk merambah kancah internasional pada tahun 2010 hingga 2014 dengan bergabung bersama TRT Arabi, sebuah langkah yang berhasil memperluas cakupan pemberitaannya hingga ke tingkat regional.
Puncak pengabdiannya terjadi selama kurun waktu 2014 hingga 2026, di mana Washah bertransformasi menjadi wajah ikonik bagi Al Jazeera Mubasher di Gaza. Ia tetap setia menjalankan tugasnya di garis depan untuk menyuarakan kebenaran hingga detik terakhir pengabdiannya saat ia gugur dalam tugas.
Rekan-rekan sejawat mengenang Washah sebagai sosok pemberani yang tidak ragu terjun ke titik-titik panas, mulai dari Rafah di selatan hingga Beit Hanoun di utara. Di tengah tekanan perang yang luar biasa, ia dikenal mampu memisahkan opini pribadi dengan fakta lapangan, menyajikan berita dengan akurasi tinggi dan karisma yang kuat di depan kamera.
Selama perang yang berlangsung sejak Februari lalu, Washah terpaksa tinggal di tenda-tenda pengungsian bersama jurnalis lain, bekerja siang dan malam untuk mendokumentasikan penderitaan warga sipil dan kehancuran infrastruktur di Gaza.
Jaringan Media Al Jazeera mengutuk keras pembunuhan Washah, menyebutnya sebagai kejahatan keji dan bagian dari penargetan sistematis terhadap jurnalis untuk membungkam kebenaran.
"Pembunuhan Washah adalah pelanggaran terang-terangan terhadap hukum internasional. Ini bukan tindakan acak, melainkan upaya sengaja untuk meneror media agar tidak melaporkan apa yang sebenarnya terjadi di Gaza," tulis pernyataan resmi Al Jazeera.
Dengan gugurnya Washah, Al Jazeera telah kehilangan 14 jurnalis dan staf medianya selama perang ini, termasuk nama-nama seperti Samer Abu Daqqa, Hamza Al-Dahdouh, dan Ismail Al-Ghoul.
Kantor Media Pemerintah di Gaza mengumumkan bahwa dengan syahidnya Washah, jumlah jurnalis yang tewas sejak awal perang kini mencapai 262 orang. Serikat Jurnalis Palestina mendesak penyelidikan internasional segera atas insiden ini.
"Ini bukan sekadar kecelakaan. Ini adalah upaya putus asa untuk menghapus narasi Palestina dan membungkam suara kebebasan," tegas pernyataan Serikat Jurnalis. Mereka menyerukan perlindungan internasional bagi seluruh pekerja media yang masih bertugas di bawah ancaman konstan di Jalur Gaza. (zarahamala/arrahmah.id)
