BEIRUT (Arrahmah.id) - Lebanon mengalami hari yang digambarkan sebagai "Hari Kiamat" pada Rabu (8/4/2026). 'Israel' melancarkan serangan udara paling intensif dari segi kepadatan dan cakupan wilayah sejak invasi tahun 1982. Serangan ini menghantam seluruh geografi Lebanon, mulai dari wilayah Selatan, Lembah Bekaa, hingga jantung ibu kota Beirut dan Gunung Lebanon.
Berdasarkan data terbaru dari Direktorat Jenderal Pertahanan Sipil Lebanon, rangkaian serangan ini telah menewaskan sedikitnya 254 orang dan melukai 1.165 lainnya. Militer 'Israel' mengonfirmasi telah melancarkan lebih dari 100 serangan udara hanya dalam waktu 10 menit, yang menyasar apartemen dan bangunan sipil.
Koresponden Al Jazeera melaporkan situasi di pusat ibu kota Beirut sangat katastropik. Untuk pertama kalinya dalam tiga dekade, serangan udara menyasar area pemukiman yang sangat padat dan di luar zona konflik tradisional. Serangan menghantam kawasan tepi laut seperti Ain al-Mraiseh, Al-Manara, dan Ain al-Tineh, serta lingkungan padat penduduk di Barbir, Corniche al-Mazraa, Burj Abi Haidar, Mazraa, dan Basta.
Di Tallet el-Khayat, sebuah bangunan tempat tinggal runtuh total dan berubah menjadi puing-puing yang bertumpuk. Tercatat 92 orang tewas dan 742 luka-luka di wilayah ibu kota saja. Laporan menyebutkan sebagian besar wilayah yang diserang adalah pemukiman warga Sunni, yang berada di luar basis tradisional Hizbullah.
Kantor Berita Nasional Lebanon (NNA) melaporkan serangan di pinggiran selatan Beirut (Dahiyeh) meliputi Bir Hassan, Al-Rehab, Hayy el-Sallam, dan Chiyah, yang menewaskan 61 orang. Sementara di wilayah Gunung Lebanon, khususnya distrik Aley, serangan di Choueifat, Aramoun, dan Keyfoun menewaskan 17 orang.
Di wilayah Timur, serangan menjangkau Hermel, Baalbek, hingga dataran Bekaa. Tragedi memilukan terjadi di Shmestar, di mana jet tempur 'Israel' mengebom sebuah pemakaman saat warga sedang mengantarkan jenazah ke liang lahat. Insiden ini menewaskan sejumlah pelayat dan petugas medis.
Di Baalbek tercatat 18 korban tewas dan 28 orang luka-luka. Sementara itu, di wilayah Hermel, eskalasi serangan juga merenggut nyawa 9 orang dan menyebabkan 6 lainnya mengalami luka-luka, menambah panjang daftar korban sipil dalam rangkaian serangan udara tersebut.
Lebanon Selatan: Medan Perang yang Padat
Kota-kota di Selatan Lebanon, yang merupakan wilayah terpadat setelah Beirut, menjadi panggung pengeboman masif. Provinsi Nabatiyeh menyaksikan serangan di 22 kota yang menghancurkan puluhan gedung apartemen dan memutus akses jalan antar-wilayah. Di kota Sidon, 12 orang tewas, sementara di Tyre, 17 orang tewas dan 68 luka-luka.
Serangan besar ini terjadi hanya beberapa jam setelah Amerika Serikat dan Iran mengumumkan gencatan senjata selama dua minggu di front mereka. 'Israel' tampaknya secara sengaja meningkatkan eskalasi untuk mengirim pesan bahwa mereka tidak terikat oleh kesepakatan tersebut.
Menteri Pertahanan 'Israel', Yisrael Katz, menegaskan bahwa 'Israel' bersikeras untuk memisahkan perang dengan Iran dari pertempuran di Lebanon. Hal ini bertujuan untuk mengubah realitas di Lebanon dan menghapus ancaman terhadap wilayah utara 'Israel' tanpa terikat oleh jeda kemanusiaan yang disepakati Washington dan Teheran. (zarahamala/arrahmah.id)
