Memuat...

Gencatan Senjata di Ujung Tanduk, Lebanon Diserang, Iran Ancam Tutup Kembali Hormuz

Zarah Amala
Kamis, 9 April 2026 / 21 Syawal 1447 10:15
Gencatan Senjata di Ujung Tanduk, Lebanon Diserang, Iran Ancam Tutup Kembali Hormuz
Serangan udara 'Israel' yang dahsyat menargetkan area Corniche al-Mazraa di Beirut pada Rabu sore (AFP)

TEHERAN (Arrahmah.id) - Gencatan Senjata sementara selama dua pekan antara Amerika Serikat, 'Israel', dan Iran resmi berlaku sejak Rabu (8/4/2026) dini hari. Namun, baru beberapa jam berjalan, kesepakatan yang dimaksudkan untuk mengakhiri perang 40 hari ini langsung dihantam perselisihan tajam mengenai penafsiran wilayah dan serangan di lapangan.

Krisis utama muncul dari perbedaan posisi mengenai apakah Lebanon termasuk dalam cakupan gencatan senjata. Ketidakjelasan ini membayangi persiapan perundingan tingkat tinggi yang dijadwalkan berlangsung di Pakistan pada hari Jumat mendatang.

Sengketa Status Lebanon

Ketegangan memuncak setelah jet tempur 'Israel' melancarkan serangan udara terdahsyat sejak tahun 1982 ke berbagai wilayah Lebanon pada Rabu siang, menewaskan sekitar 182 orang dan melukai 890 lainnya.

Menlu Abbas Araqchi menegaskan bahwa Lebanon adalah bagian tak terpisahkan dari kesepakatan. Ia memperingatkan AS untuk memilih: "Berhenti total atau lanjutkan perang melalui 'Israel'."

Wakil Presiden AS JD Vance secara tegas membantah klaim tersebut, menyatakan bahwa gencatan senjata hanya berlaku untuk perang langsung dengan Iran, bukan Lebanon. Israel pun mengonfirmasi operasi militer di Lebanon tetap berlanjut.

Selat Hormuz: Antara Pembukaan dan Penutupan Kembali

Status Selat Hormuz tetap menjadi faktor penentu. Meskipun JD Vance melaporkan adanya peningkatan lalu lintas kapal pada Rabu (8/4), pihak Iran mengirimkan sinyal kontradiktif. Kantor berita Fars melaporkan bahwa Iran menutup selat tersebut bagi 99% kapal sebagai respons atas gempuran 'Israel' di Lebanon.

Gedung Putih melalui juru bicara Karoline Leavitt menanggapi keras dengan menyatakan bahwa Presiden Trump menuntut pembukaan jalur navigasi secara penuh, cepat, dan aman.

Meskipun gencatan senjata berlaku dengan Iran, serangan lintas batas justru dilaporkan terjadi di negara-negara Teluk. Arab Saudi, Qatar, Bahrain, dan UEA melaporkan penghadangan puluhan rudal dan drone yang mengarah ke wilayah mereka. Di Abu Dhabi, serpihan intersepsi memicu kebakaran di fasilitas pemrosesan gas Habshan.

Sementara Kuwait, berhasil menangkis serangan drone yang menargetkan infrastruktur vital seperti kilang minyak dan pembangkit listrik.

Di sisi lain, Iran melaporkan adanya ledakan di kilang minyak Pulau Lavan dan Pulau Siri di Teluk. Otoritas Iran menyebut ledakan di Lavan sebagai hasil serangan dari pihak musuh, yang menambah panjang daftar pelanggaran kesepakatan di hari pertama.

Fokus kini beralih ke Pakistan untuk perundingan Jumat (10/4). Delegasi AS akan dipimpin langsung oleh JD Vance, didampingi Steve Witkoff dan Jared Kushner. Namun, optimisme ini dibayangi oleh pernyataan Ketua Parlemen Iran, Mohammad Baqer Qalibaf, yang menyebut bahwa pelanggaran pada tiga poin krusial, isu Lebanon, infiltrasi drone, dan hak pengayaan uranium, telah melemahkan efektivitas gencatan senjata ini.

Sementara itu, Perdana Menteri Inggris Keir Starmer telah tiba di Arab Saudi untuk memulai tur diplomatik regional guna mendukung stabilitas navigasi di Hormuz dan mencegah kawasan kembali ke eskalasi terbuka. (zarahamala/arrahmah.id)