Memuat...

Akui Kumpulkan Informasi Milisi Syiah, Jurnalis AS Dibebaskan Hizbullah Irak

Hanoum
Kamis, 9 April 2026 / 21 Syawal 1447 04:08
Akui Kumpulkan Informasi Milisi Syiah, Jurnalis AS Dibebaskan Hizbullah Irak
Shelly Kittleson. [Foto: Reuters]

BAGHDAD (Arrahmah.id) -- Seorang jurnalis Amerika Serikat, Shelly Kittleson, dibebaskan oleh milisi Syiah pro-Iran Kataib Hezbollah setelah sebelumnya ditahan di Irak, menyusul pengakuannya terkait aktivitas peliputan dan pengumpulan informasi mengenai kelompok bersenjata di kawasan tersebut.

Kittleson, jurnalis lepas yang telah lama meliput konflik Timur Tengah, diculik pada 31 Maret 2026 di Baghdad saat sedang menjalankan tugas jurnalistik. Ia kemudian ditahan selama sekitar satu minggu di wilayah selatan ibu kota Irak, yang dikenal sebagai basis kuat milisi tersebut, sebelum akhirnya dibebaskan pada Selasa (7/4/2026).

Pembebasan itu dilakukan setelah adanya tekanan dari pemerintah Irak serta negosiasi yang melibatkan pertukaran tahanan, di mana beberapa anggota milisi dibebaskan sebagai bagian dari kesepakatan.

Dalam pernyataan resminya, pejabat keamanan kelompok tersebut menyebut pembebasan dilakukan sebagai “gestur khusus” dan disertai syarat bahwa Kittleson harus segera meninggalkan Irak.

“Kami memutuskan untuk membebaskan warga Amerika itu dengan syarat ia segera meninggalkan negara ini. Langkah ini tidak akan terulang kembali,” demikian pernyataan pejabat milisi yang dikutip The Guardian (7/4).

Sebelumnya, sebuah video yang beredar melalui kanal yang berafiliasi dengan kelompok tersebut menunjukkan Kittleson berbicara di depan kamera dan mengakui aktivitasnya mengumpulkan informasi terkait milisi Syiah di Irak, meski keaslian dan konteks video tersebut tidak dapat diverifikasi secara independen.

Kataib Hezbollah sendiri merupakan kelompok milisi Syiah yang didukung Iran dan menjadi bagian dari jaringan bersenjata yang beroperasi di Irak, serta kerap terlibat dalam konflik dengan kepentingan Amerika Serikat di kawasan.

Pemerintah Irak menyatakan bahwa jurnalis tersebut dalam kondisi fisik baik saat dibebaskan, sementara pihak Amerika Serikat belum memberikan rincian lebih lanjut terkait proses negosiasi yang berlangsung.

Kasus ini kembali menyoroti tingginya risiko yang dihadapi jurnalis asing di wilayah konflik, terutama di tengah meningkatnya ketegangan antara Amerika Serikat, Iran, dan kelompok-kelompok milisi di Timur Tengah. (hanoum/arrahmah.id)