Memuat...

Iran ‘Tutup’ Selat Hormuz, Ultimatum Gencatan Senjata Runtuh Usai Serangan Brutal ‘Israel’ ke Lebanon

Samir Musa
Rabu, 8 April 2026 / 20 Syawal 1447 23:06
Iran ‘Tutup’ Selat Hormuz, Ultimatum Gencatan Senjata Runtuh Usai Serangan Brutal ‘Israel’ ke Lebanon
“Israel” melancarkan serangan udara ke berbagai wilayah di seluruh Lebanon, termasuk pusat ibu kota Beirut (France).

TEHERAN (Arrahmah.id) — Ketegangan di kawasan Timur Tengah kembali meningkat setelah Iran menghentikan sementara lalu lintas kapal tanker minyak di Selat Hormuz, Rabu (8/4/2026), sebagai respons atas pelanggaran gencatan senjata oleh “Israel” yang melancarkan serangan ke Lebanon.

Langkah tersebut diumumkan di tengah kemarahan Teheran terhadap apa yang disebutnya sebagai “kejahatan” akibat pemboman besar-besaran oleh “Israel” sejak dini hari.

Seorang pejabat tinggi Iran kepada Al Jazeera menegaskan bahwa negaranya tidak akan tinggal diam.

“Israel dikenal kerap mengingkari kesepakatan, dan tidak ada yang bisa menghentikannya selain kekuatan,” ujarnya.

Ancaman Mundur dari Kesepakatan

Pejabat tersebut menjelaskan bahwa kesepakatan gencatan senjata yang dicapai bersama Amerika Serikat sejatinya mencakup seluruh kawasan, termasuk front Lebanon. Namun, agresi terbaru “Israel” dinilai sebagai pelanggaran terang-terangan terhadap kesepakatan itu.

Sumber lain yang dikutip kantor berita Tasnim menyebut bahwa penghentian pertempuran di semua front—termasuk terhadap kelompok perlawanan Islam di Lebanon—merupakan bagian dari rencana gencatan senjata selama dua pekan yang telah disetujui Washington.

“Namun entitas Zionis justru melancarkan serangan keras ke Lebanon sejak pagi ini, dalam pelanggaran yang jelas terhadap perjanjian,” kata sumber tersebut.

Iran pun memperingatkan akan menarik diri dari kesepakatan gencatan senjata jika pelanggaran terus berlanjut.

Target Balasan Sedang Disiapkan

Sumber militer Iran mengungkapkan bahwa angkatan bersenjata kini tengah mengidentifikasi target-target strategis untuk membalas serangan “Israel” terbaru.

Di sisi lain, berkembang pandangan di Teheran bahwa Washington kemungkinan tidak mampu—atau tidak berniat—menahan Perdana Menteri “Israel”, Benjamin Netanyahu.

Bahkan, ada dugaan bahwa Amerika Serikat memberikan ruang gerak bagi “Israel” melalui struktur komando militernya di kawasan.

Selat Hormuz dalam Pengawasan Ketat

Media Iran melaporkan bahwa aktivitas pelayaran di Selat Hormuz kini berada di bawah pengawasan dan pembatasan ketat, seiring meningkatnya ketegangan regional akibat eskalasi militer di Lebanon.

Penutupan atau pembatasan jalur ini berpotensi mengguncang pasokan energi global, mengingat Selat Hormuz merupakan jalur vital perdagangan minyak dunia.

Ultimatum Trump

Sebelumnya, Presiden AS Donald Trump mengumumkan penghentian sementara serangan terhadap Iran selama dua pekan. Namun, ia mensyaratkan pembukaan penuh dan segera Selat Hormuz serta penerapan gencatan senjata secara timbal balik.

Pernyataan tersebut disampaikan kurang dari dua jam sebelum berakhirnya tenggat waktu yang diberikan Washington kepada Iran untuk mematuhi kesepakatan—atau menghadapi ancaman kehancuran besar.

Situasi ini menandai fase baru eskalasi yang berpotensi meluas jika tidak segera dikendalikan.

(Samirmusa/arrahmah.id)