Memuat...

“Israel” Gempur Lebanon Tanpa Henti: Ratusan Tewas Saat Gencatan Senjata Baru Saja Diumumkan

Samir Musa
Rabu, 8 April 2026 / 20 Syawal 1447 22:55
“Israel” Gempur Lebanon Tanpa Henti: Ratusan Tewas Saat Gencatan Senjata Baru Saja Diumumkan
Serangan udara hebat mengguncang Lebanon meskipun kesepakatan gencatan senjata antara Iran dan Amerika Serikat telah mulai berlaku (Reuters).

BEIRUT (Arrahmah.id)  – Ratusan orang dilaporkan tewas dan terluka setelah “Israel” melancarkan serangan udara besar-besaran ke berbagai wilayah Lebanon sejak Rabu (8/4/2026) dini hari, dalam eskalasi yang disebut sebagai yang terbesar sejak perang dimulai.

Serangan ini terjadi hanya beberapa jam setelah diumumkannya kesepakatan gencatan senjata selama dua pekan antara Amerika Serikat dan Iran.

Sebagaimana dilaporkan Aljazeera, serangan udara “Israel” meluas ke berbagai wilayah, mulai dari selatan Lebanon, kawasan Gunung Lebanon, hingga Dahiya Selatan, serta wilayah dalam ibu kota Beirut. Serangan juga menjangkau kota Tyre, Hermel, dan Lembah Bekaa.

Kementerian Kesehatan Lebanon mengonfirmasi puluhan korban jiwa dan ratusan korban luka akibat gelombang serangan tersebut, sementara tim penyelamat masih berupaya mengevakuasi korban yang terjebak di bawah reruntuhan.

Pihak Palang Merah Internasional di Lebanon menyatakan bahwa sekitar 100 ambulans dikerahkan untuk mengangkut korban ke rumah sakit, yang kini dilaporkan penuh sesak.

Serangan Terbesar dan Ancaman Berlanjut

Kepala Staf militer “Israel”, Eyal Zamir, menegaskan bahwa serangan ke Lebanon akan terus berlanjut tanpa henti.

Sementara itu, Menteri Pertahanan “Israel”, Israel Katz, mengklaim bahwa operasi ini bertujuan memisahkan front Lebanon dari konflik dengan Iran.

Ia menyebut ratusan pejuang Hizbullah menjadi sasaran dalam serangan terkoordinasi di berbagai lokasi. Bahkan, ia memperingatkan Wakil Sekjen Hizbullah, Naim Qassem, bahwa kelompok tersebut akan “membayar harga mahal”.

Militer “Israel” sebelumnya mengumumkan bahwa lebih dari 100 target diserang hanya dalam waktu 10 menit, termasuk fasilitas komando, sistem rudal, dan drone milik Hizbullah.

Di saat yang sama, juru bicara militer “Israel”, Avichay Adraee, mengeluarkan peringatan evakuasi bagi warga di kota Tyre untuk segera mengungsi ke utara Sungai Zahrani.

Lebanon: “Israel” Ancam Stabilitas Kawasan

Presiden Lebanon, Joseph Aoun, menyerukan kepada komunitas internasional agar segera menghentikan agresi “Israel” yang dinilai mengancam stabilitas kawasan.

“Kebijakan agresif ini hanya akan memperluas ketegangan,” tegasnya.

Senada dengan itu, Perdana Menteri Lebanon, Nawaf Salam, menuduh “Israel” mengabaikan prinsip-prinsip hukum internasional dan hukum kemanusiaan.

Dalam pernyataannya di platform X, ia menegaskan bahwa serangan tersebut menyasar kawasan sipil padat penduduk dan menelan korban warga tak bersenjata.

Iran Pertimbangkan Mundur dari Kesepakatan

Di tengah eskalasi ini, Iran mengisyaratkan kemungkinan menarik diri dari kesepakatan gencatan senjata.

Seorang anggota parlemen Iran, Ibrahim Rezaei, bahkan menyerukan penghentian lalu lintas di Selat Hormuz sebagai respons atas serangan ke Lebanon.

Sumber keamanan Iran juga menyebut bahwa Teheran tengah menyiapkan respons militer terhadap “Israel”, menyusul pelanggaran terhadap kesepakatan yang baru diumumkan.

Menurut laporan, langkah ini mencerminkan dua kemungkinan: ketidakmampuan Amerika Serikat mengendalikan Perdana Menteri “Israel”, Benjamin Netanyahu, atau adanya “lampu hijau” dari Washington.

Ketidakjelasan Status Lebanon dalam Kesepakatan

Situasi semakin rumit setelah pemerintah “Israel” menegaskan bahwa kesepakatan gencatan senjata dengan Iran tidak mencakup Lebanon.

Namun, Perdana Menteri Pakistan, Shehbaz Sharif, yang berperan sebagai mediator, menyatakan bahwa kesepakatan tersebut seharusnya berlaku di semua front, termasuk Lebanon—pandangan yang juga didukung oleh Teheran.

Di sisi lain, Hizbullah dilaporkan menghentikan serangan terhadap “Israel” sejak dini hari, sambil menunggu kejelasan posisi resmi terkait kesepakatan tersebut.

Laporan media internasional menyebutkan bahwa kelompok itu masih menahan diri dan akan menentukan langkah selanjutnya berdasarkan sikap “Israel”.

(Samirmusa/arrahmah.id)