Memuat...

Menhan AS Temui Netanyahu secara Mendadak di 'Israel', Pembahasan Perang Iran Disorot

Zarah Amala
Rabu, 21 Oktober 2026 / 11 Jumadilawal 1448 10:31
Menhan AS Temui Netanyahu secara Mendadak di 'Israel', Pembahasan Perang Iran Disorot
Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth. (Foto: Foto DoW oleh Aiko Bongolan/Wikimedia)

TEL AVIV (Arrahmah.id) - Menteri Pertahanan Amerika Serikat Pete Hegseth melakukan kunjungan mendadak ke 'Israel' pada Senin (19/10/2026) dan bertemu Perdana Menteri Benjamin Netanyahu di Pangkalan Udara Ovda. Pertemuan itu berlangsung di tengah pembahasan Washington dan Tel Aviv mengenai kemungkinan melanjutkan operasi militer besar-besaran terhadap Iran.

Axios melaporkan pertemuan tersebut dengan mengutip dua sumber yang mengetahui langsung agenda itu. Pangkalan Udara Ovda, yang terletak di 'Israel' selatan, diketahui menjadi lokasi penempatan pesawat pengisi bahan bakar di udara dan jet tempur AS, menurut sumber yang sama.

Hegseth juga menemui personel militer AS yang ditempatkan di pangkalan tersebut. Ia kemudian mengunggah foto kunjungannya bersama personel Komando Pusat AS (CENTCOM), komando yang mengawasi operasi militer Amerika di Timur Tengah dan sejumlah wilayah lainnya.

Saluran televisi 'Israel' Channel 13 melaporkan, pertemuan Hegseth dan Netanyahu berlangsung selama dua jam serta dihadiri sejumlah pejabat lain, menurut Al Mayadeen.

Pentagon dan Kedutaan Besar 'Israel' menolak memberikan komentar kepada Axios. Kantor Netanyahu belum segera menanggapi permintaan konfirmasi.

Kunjungan itu berlangsung delapan hari sebelum pemilihan umum 'Israel' pada 27 Oktober. Namun, laporan yang tersedia belum memastikan apakah pertemuan tersebut membahas rencana militer tertentu.

Presiden AS Donald Trump sebelumnya menyatakan tidak akan melanjutkan serangan Amerika terhadap Iran sebelum pemilihan paruh waktu AS pada 3 November, menurut laporan Associated Press yang dikutip Al Mayadeen.

Pertemuan Hegseth dengan Netanyahu terjadi sehari setelah Trump secara terbuka menyatakan dukungannya kepada perdana menteri 'Israel' tersebut.

Dalam wawancara dengan Channel 12 'Israel', Trump mengaitkan dukungannya dengan kerja sama menghadapi Iran. Ia juga mengisyaratkan bahwa kekalahan Netanyahu dapat membuat Washington harus menghadapi Teheran tanpa dukungan pemimpin 'Israel' yang selama ini menjadi mitranya.

Trump mengaku belum yakin dapat bekerja sama dengan pemimpin 'Israel' alternatif. “Mengapa saya harus mengambil risiko?” ujarnya.

Surat kabar 'Israel' Maariv melaporkan, sejumlah sumber politik menyebut hasil jajak pendapat terperinci yang diberikan kepada Trump turut memengaruhi waktu pengumuman dukungan tersebut.

Sementara itu, sumber-sumber dari Partai Likud, yang dipimpin Netanyahu, menyebut dukungan Trump sudah diperkirakan. Waktu pengumumannya dinilai sengaja dipilih agar memberikan dampak maksimal pada hari-hari terakhir kampanye, menurut Al Mayadeen.

Sejumlah jajak pendapat menunjukkan koalisi Netanyahu berpotensi kehilangan mayoritas di parlemen. Meski demikian, partai-partai oposisi juga menghadapi kesulitan untuk membentuk pemerintahan alternatif.

Wakil Presiden AS JD Vance tidak mengikuti langkah Trump dalam menyatakan dukungan kepada Netanyahu.

“Saya mendukung kandidat-kandidat Amerika, dan itulah yang menjadi fokus saya dalam pemilihan paruh waktu,” kata Vance kepada platform media 2WAY, menurut Al Mayadeen.

Ia menambahkan bahwa dirinya tidak menentang pemberian dukungan kepada Netanyahu, tetapi juga tidak akan melakukannya karena tidak ingin mencampuri pemilihan di 'Israel'.

Di sisi lain, Netanyahu mendesak para pendukungnya memanfaatkan sisa masa jabatan Trump untuk mempercepat pencapaian tujuan-tujuan Israel.

Menurut penyiar publik 'Israel' Kan, Netanyahu memperingatkan bahwa Partai Republik berpotensi kehilangan pengaruh politik di Washington.

“Kita memiliki dua tahun tersisa dalam masa jabatan sahabat saya, Trump. Inilah saat yang tepat untuk menyelesaikan misi-misi besar kita di semua lini,” kata Netanyahu. (zarahamala/arrahmah.id)