Memuat...

Harga Tepung Aci Tembus Rp 21 Ribu per Kg, Pedagang Cilor Terpaksa Berhenti Jualan

Ameera
Ahad, 8 November 2026 / 29 Jumadilawal 1448 12:30
Harga Tepung Aci Tembus Rp 21 Ribu per Kg, Pedagang Cilor Terpaksa Berhenti Jualan
Harga Tepung Aci Tembus Rp 21 Ribu per Kg, Pedagang Cilor Terpaksa Berhenti Jualan

LEBAK (Arrahmah.id) – Lonjakan harga tepung tapioka atau aci hingga mencapai Rp 21.000 per kilogram mulai mengancam keberlangsungan usaha pedagang makanan kecil di Kabupaten Lebak, Banten.

Kenaikan harga bahan baku tersebut membuat biaya produksi meningkat, sementara pedagang kesulitan menyesuaikan harga jual karena khawatir kehilangan pelanggan.

Dampaknya dirasakan langsung oleh Parja (38), seorang pedagang cilor keliling asal Kampung Popojok, Desa Sukarendah, Kecamatan Warunggunung.

Akibat keuntungan yang terus tergerus, Parja bahkan terpaksa menghentikan sementara aktivitas berjualannya selama sekitar satu pekan.

Parja mengaku, kenaikan harga tepung tapioka membuat modal usaha yang harus disiapkan semakin besar. Namun, dia tidak bisa begitu saja menaikkan harga cilor yang selama ini dijual Rp 1.000 per tusuk.

"Kalau sebelumnya modal sekitar Rp 170.000 masih bisa menghasilkan uang sekitar Rp 350.000. Sekarang keuntungan paling sekitar Rp 70.000, itu pun belum dipotong modal," kata Parja kepada Beritasatu.com, Ahad (8/11/2026).

Menurut Parja, kenaikan harga tepung tapioka telah berlangsung lebih dari sepekan terakhir. Sebelumnya, dia membutuhkan sekitar 4 kilogram tepung tapioka setiap hari untuk memproduksi cilor yang dijual secara keliling.

Namun, harga tepung tapioka yang kini mencapai Rp 20.000 hingga Rp 21.000 per kilogram di tingkat agen dan pengecer membuat kebutuhan modal ikut membengkak.

Kondisi tersebut semakin menekan kemampuan produksi sekaligus pendapatan hariannya.

Tidak hanya biaya produksi yang meningkat, jumlah cilor yang berhasil dijual Parja juga mengalami penurunan. Sebelum harga aci melonjak, dia mampu menjual sekitar 300 hingga 400 tusuk dalam sehari.

Kini, jumlah penjualannya diperkirakan hanya berkisar 150 hingga 300 tusuk per hari. Dengan harga jual yang masih bertahan di angka Rp 1.000 per tusuk, Parja harus menanggung kenaikan biaya bahan baku tanpa bisa meningkatkan pendapatan secara seimbang.

"Kalau harga aci naik, kami yang mengeluh. Barangnya mahal, tetapi harga jual tetap segitu. Keuntungan hampir tidak ada," ujarnya.

Situasi tersebut membuat usaha cilor keliling yang selama ini menjadi salah satu sumber penghasilan untuk memenuhi kebutuhan rumah tangganya semakin sulit dipertahankan.

Parja akhirnya memilih menghentikan sementara aktivitas berjualannya selama sekitar sepekan karena biaya produksi yang semakin tinggi dinilai tidak sebanding dengan keuntungan yang diperoleh.

Dia berharap pemerintah memberikan perhatian terhadap kenaikan harga bahan baku yang digunakan para pelaku usaha kecil.

Menurutnya, kestabilan harga bahan pangan menjadi salah satu faktor penting agar pedagang mikro tetap mampu bertahan di tengah meningkatnya biaya usaha.

"Intinya kami kesulitan. Mudah-mudahan pemerintah segera memperhatikan kondisi seperti ini," tandas Parja.

(ameera/arrahmah.id)