Memuat...

Panik dan Terlihat Bodoh: Kebohongan “Israel” Terbongkar lagi di RS Al-Shifa

Zarah Amala
Kamis, 16 November 2023 / 3 Jumadilawal 1445 10:55
Panik dan Terlihat Bodoh: Kebohongan “Israel” Terbongkar lagi di RS Al-Shifa
Militer "Israel" merangsek masuk ke RS Al-Shifa Gaza. (Foto: IDF Spokesperson's Unit)

(Arrahmah.id) – “Israel” menggerebek RS Al-Shifa di Kota Gaza saat fajar pada Rabu, 15 November setelah mengepung rumah sakit tersebut selama berhari-hari dan melancarkan serangan besar-besaran di daerah tersebut. Pasukan dilaporkan telah ditarik dari gedung rumah sakit dan dikerahkan kembali ke gerbang Al-Shifa pada Rabu malam.

Rabu tengah malam, Adnan al-Bursh, kepala departemen ortopedi di rumah sakit Al-Shifa, mengatakan kepada Al Jazeera Arab bahwa buldoser “Israel” mulai meratakan area di sekitar gerbang selatan kompleks medis tersebut.

Benjamin Netanyahu, perdana menteri “Israel”, memuji penaklukan militernya atas rumah sakit terbesar di Gaza tersebut, dengan mengatakan bahwa “tidak ada tempat di Gaza yang tidak dapat kami jangkau. Tidak ada tempat persembunyian. Tidak ada tempat berlindung bagi teroris Hamas.”

Namun propaganda “Israel” yang diterbitkan setelah serangan tersebut menunjukkan bahwa tuduhan Netanyahu dan militer bahwa Hamas menggunakan Al-Shifa untuk melindungi pusat komandonya adalah kebohongan yang mematikan.

Militer “Israel” menerbitkan video “one-shot” berdurasi lebih dari tujuh menit yang konon menunjukkan penemuan “senjata Hamas” yang ditemukan di pusat MRI rumah sakit. Rekaman militer menunjukkan bagian-bagian senapan yang dibungkus kain di dalam lemari kecil dan juru bicaranya sambil menggendong ransel, menunjuk ke arah laptop kecil yang tengah menyala dan mengambil setumpuk CD.

Namun, video aslinya segera dihapus dan militer akhirnya menerbitkan versi video yang berdurasi sekitar 20 detik lebih pendek dari versi pertama dan mengaburkan gambar di laptop yang menampilkan seorang tentara IDF yang jelas-jelas menunjukkan bahwa laptop tersebut adalah milik mereka alih-alih Hamas.

 

Rekaman militer juga menunjukkan “tas” yang diklaim milik pejuang Hamas yang berisi senjata di belakang mesin MRI dan juga rompi antipeluru yang memuat lambang Hamas dan Jihad Islam.

Propaganda “Israel”

Bulan lalu, “Israel” menerbitkan animasi yang katanya “berbasis intelijen” yang menggambarkan kompleks bawah tanah yang luas yang mereka klaim berada di bawah rumah sakit.

“Israel” telah melontarkan tuduhan semacam itu terhadap Al-Shifa setidaknya sejak 2009.

Mondoweiss menerbitkan klip video “one-shot” yang dirilis oleh militer “Israel” yang menunjukkan bahwa video tersebut sebenarnya telah diedit.

Militer “Israel” juga merilis foto-foto seorang tentara di Al-Shifa berdiri di samping tumpukan kardus yang ditempeli lembaran kertas besar bertuliskan “persediaan medis” dan “makanan bayi” dalam bahasa Inggris – sebuah upaya menjadikan serangan keji sebagai operasi kemanusiaan.

Salah satu kotak yang ditampilkan dalam “one-shot video” di sebelah tas senjata yang diklaim militer “Israel” sebagai milik Hamas yang ditemukan di Al-Shifa, justru menunjukkan bahwa apa yang diklaim sebagai “bukti” adalah barang yang sengaja ditempatkan di lokasi tersebut. Kotak tersebut adalah kotak yang sama dengan kotak yang diklaim militer “Israel” sebagai bantuan medis yang mereka bawa dari luar.

 

Para propagandis militer “Israel” juga membuat sebuah video yang konon memperlihatkan inkubator yang mereka tawarkan untuk dipindahkan ke bangsal anak-anak Al-Shifa, dan sebuah foto seorang tentara yang memuat inkubator ke dalam sebuah mobil.

Beberapa pasien neonatus di Al-Shifa telah meninggal dalam beberapa hari terakhir. Bayi-bayi tersebut meninggal bukan karena kurangnya inkubator, namun karena mereka kekurangan oksigen setelah “Israel” memutus pasokan listrik ke Gaza lebih dari sebulan lalu. Rumah sakit telah kehabisan bahan bakar untuk menjalankan generator darurat karena larangan “Israel” atas pengiriman bahan bakar ke wilayah tersebut.

Pakar hukum internasional dan kelompok hak asasi manusia mengatakan bahwa pengepungan total “Israel” di Gaza, termasuk larangan penggunaan bahan bakar listrik, adalah kejahatan perang.

Serangan “Israel” meneror staf medis dan pasien

Adnan al-Bursh, kepala departemen ortopedi di al-Shifa, mengatakan kepada Al Jazeera pada Rabu bahwa pasukan “Israel” telah mengepung rumah sakit dan menargetkan siapa saja yang bergerak. Dia mengatakan, staf tidak dapat berkomunikasi antar departemen.

Direktur rumah sakit mengatakan kepada stasiun televisi Qatar bahwa saluran pasokan air rumah sakit telah meledak, dan mengatakan bahwa “kami tidak memiliki setetes air pun” untuk ratusan orang yang terluka dan ribuan pengungsi yang berada di fasilitas tersebut.

Sehari sebelumnya, Ashraf al-Qedra, juru bicara kementerian kesehatan Palestina di Gaza, mengatakan bahwa puluhan orang dimakamkan di halaman rumah sakit al-Shifa dan masih banyak lagi jenazah yang membusuk yang masih perlu dikuburkan, namun situasi sangat berbahaya karena kehadiran militer “Israel”.

Ia mengatakan ada 40 pasien, termasuk tiga anak-anak, meninggal karena kurangnya pasokan medis di Al-Shifa.

Saksi di Al-Shifa sebagaimana yang dilansir Reuters mengatakan bahwa selama serangan militer “Israel”, pasukan telah menggeledah kamar dan ruang bawah tanah.

Sumber di Al-Shifa mengatakan kepada Al Jazeera bahwa tentara “Israel” memerintahkan para pemuda untuk menyerah. Ada sekitar 30 orang dilaporkan dibawa ke halaman, ditelanjangi, ditutup matanya dan diinterogasi oleh tentara “Israel”.

Pasukan “Israel” juga meledakkan gudang obat-obatan dan peralatan medis, kata sumber tersebut.

Ahmed El Mokhallalati, seorang ahli bedah di al-Shifa, menggambarkan situasi yang mengerikan bagi ratusan pasien, anggota keluarga mereka, staf medis dan ribuan pengungsi yang berlindung di rumah sakit ketika suara tembakan keras dan ledakan terdengar di seluruh kompleks.

“Kami tidak tahu apa yang akan mereka lakukan terhadap kami,” kata El Mokhallalati. “Kami tidak tahu apakah mereka akan membunuh orang atau meneror mereka. Kami tahu semua propaganda itu bohong, dan mereka juga tahu sebagaimana kami bahwa tidak ada apa pun di pusat medis Al-Shifa.”

Pejabat kesehatan Palestina di Gaza dan Hamas dengan keras membantah tuduhan bahwa pejuang Palestina menggunakan rumah sakit sebagai pusat komando, dan Hamas mendesak Sekretaris Jenderal PBB untuk membentuk delegasi internasional untuk menegur klaim “Israel”.

Juru bicara AS menirukan tuduhan “Israel”

Beberapa jam sebelum pasukan “Israel” menyerbu al-Shifa, juru bicara Gedung Putih John Kirby mengklaim bahwa AS memiliki informasi bahwa Hamas dan Jihad Islam menggunakan beberapa rumah sakit di Jalur Gaza, termasuk Al-Shifa, dan terowongan di bawahnya untuk menyembunyikan dan mendukung operasi militer mereka dan melakukan penyanderaan.

Dia menuduh para pejuang “mengoperasikan pusat komando dan kontrol dari Al-Shifa di Kota Gaza. Mereka telah menyimpan senjata di sana, dan mereka siap untuk menanggapi operasi militer Israel terhadap fasilitas tersebut.”

Kirby mengatakan kepada wartawan bahwa informasi AS berasal dari berbagai sumber intelijen namun tidak memberikan bukti spesifik.

Klaim tersebut diulangi oleh juru bicara Pentagon pada Selasa, yang bahkan menegaskan bahwa Hamas dan Jihad Islam “memiliki senjata yang disimpan di sana dan siap untuk menanggapi operasi militer “Israel” terhadap fasilitas tersebut.”

 

Namun belum ada laporan yang dikonfirmasi mengenai perlawanan bersenjata dari dalam Al-Shifa ataupun klaim bahwa “Israel” telah bertemu, menangkap atau membunuh pejuang mana pun saat menyerbu fasilitas tersebut, militer “Israel” hanya mengatakan bahwa setidaknya lima pejuang gugur oleh pasukan saat terjadi penembakan dan pertempuran di luar rumah sakit.

Kirby juga mengatakan bahwa pemerintahan Biden “tidak mendukung penyerangan terhadap rumah sakit dari udara, dan kami tidak ingin melihat baku tembak di rumah sakit di mana orang-orang yang tidak bersalah, orang-orang yang tidak berdaya, orang-orang yang sakit hanya berusaha untuk mendapatkan perawatan medis yang layak mereka dapatkan.”

Pada Rabu, Kirby membantah tuduhan bahwa pemerintahan Biden mengizinkan penggerebekan terhadap Al-Shifa.

Martin Griffiths, kepala kemanusiaan PBB, mengatakan bahwa dia “terkejut atas laporan serangan militer” di Al-Shifa, dan menambahkan bahwa “perlindungan terhadap bayi baru lahir, pasien, staf medis dan semua warga sipil harus menjadi priotitas utama.”

Tedros Adhanom Ghebreyesus, direktur Organisasi Kesehatan Dunia, mengatakan bahwa laporan “serangan militer ke rumah sakit Al-Shifa sama sekali tidak bisa diterima.” Dia menambahkan bahwa lembaga tersebut tidak dapat menghubungi petugas kesehatan di rumah sakit dan “kami sangat mengkhawatirkan keselamatan mereka dan pasien mereka.”

Pada Selasa, Human Rights Watch mengatakan bahwa serangan berulang-ulang yang dilakukan “Israel” terhadap fasilitas medis, pekerja kesehatan dan ambulans “semakin menghancurkan sistem layanan kesehatan di Jalur Gaza dan harus diselidiki sebagai kejahatan perang.”

Kelompok tersebut mengatakan bahwa “tidak ada bukti yang diajukan yang dapat membenarkan pencabutan status perlindungan rumah sakit dan ambulans berdasarkan hukum kemanusiaan internasional.” (zarahamala/arrahmah.id)

HeadlinePalestinaidfrs al-shifapropaganda israel