Memuat...

AS Galang Koalisi 34 Negara untuk Paksa Pembukaan Selat Hormuz Tanpa Syarat

Zarah Amala
Jumat, 10 April 2026 / 22 Syawal 1447 10:20
AS Galang Koalisi 34 Negara untuk Paksa Pembukaan Selat Hormuz Tanpa Syarat
Sekitar seperlima pasokan minyak dunia melewati Selat Hormuz (Reuters)

WASHINGTON (Arrahmah.id) - Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, memperingatkan Iran agar tidak mencoba menarik biaya atau pajak terhadap kapal tanker minyak yang melintasi Selat Hormuz. Peringatan ini muncul di tengah laporan bahwa Teheran mulai memungut bayaran setelah sepakat membuka kembali jalur maritim vital tersebut sebagai bagian dari gencatan senjata selama dua pekan.

Melalui platform Truth Social, Trump menegaskan ketidaksenangannya terhadap hambatan yang masih terjadi. "Ada laporan bahwa Iran memungut biaya dari tanker minyak yang melewati Selat Hormuz. Lebih baik jangan lakukan itu, dan jika memang sedang dilakukan, lebih baik berhenti sekarang!" tulis Trump.

Trump juga menambahkan bahwa Iran telah melakukan tindakan yang memalukan terkait arus distribusi minyak dunia. "Segera, Anda akan melihat minyak mulai mengalir, baik dengan bantuan Iran atau tanpa mereka," tegasnya.

Sementara itu, upaya internasional untuk mengamankan jalur pelayaran paling strategis di dunia ini mulai menunjukkan kemajuan besar. Sekretaris Jenderal NATO, Mark Rutte, menyatakan bahwa aliansi tersebut siap berkontribusi dalam misi perlindungan navigasi di Selat Hormuz.

Rencana pengamanan ini dilaporkan tidak hanya melibatkan negara-negara NATO, tetapi juga koalisi multinasional yang lebih luas, termasuk Jepang, Korea Selatan, Australia dan negara-negara Teluk serta Inggris, yang dipimpin oleh PM Keir Starmer.

Hingga saat ini, sekitar 34 negara dilaporkan telah terlibat dalam perencanaan militer yang mencakup penyediaan kapal perang dan teknologi pemantauan canggih guna memastikan kelancaran arus logistik global.

Meskipun gencatan senjata telah berlaku sejak Rabu (8/4/2026), arus pelayaran di Selat Hormuz masih sangat jauh dari kondisi normal sebelum perang meletus pada 28 Februari lalu.

Saat ini diperkirakan hanya ada 10 hingga 15 lintasan per hari, merosot tajam dibandingkan rata-rata 120 lintasan per hari sebelum perang. Kapal tanker pertama yang bukan milik Iran, MSG berbendera Gabon, tercatat melintasi selat pada Kamis (9/4) dengan membawa bahan bakar dari Uni Emirat Arab menuju India.

Berdasarkan data Marine Traffic, terdapat ratusan kapal yang masih terjebak di wilayah tersebut, termasuk 426 tanker minyak, 34 tanker LPG, dan 19 kapal LNG.

Sebagai langkah teknis, Garda Revolusi Iran (IRGC) dilaporkan telah merilis peta rute alternatif di Selat Hormuz guna membantu kapal-kapal menghindari potensi ranjau laut yang tersebar selama konflik berlangsung. (zarahamala/arrahmah.id)