BEIRUT (Arrahmah.id) - Langit Lebanon kembali diwarnai ledakan hebat pada Jumat (10/4/2026), seiring dengan berlanjutnya serangan udara 'Israel' di wilayah Selatan. Namun, di balik pertempuran sengit tersebut, muncul laporan kuat mengenai kemungkinan de-eskalasi akibat tekanan diplomatik dari Presiden Amerika Serikat, Donald Trump.
Koresponden Al Jazeera melaporkan bahwa jet tempur 'Israel' hari ini menyasar setidaknya 11 kota di Lebanon Selatan, termasuk Al-Bazourieh, Hanawiyah, hingga Qaqaiya al-Jisr. Serangan ini menyusul hari berdarah pada Kamis kemarin, di mana gempuran udara dan artileri di 52 wilayah menewaskan 24 orang, termasuk wanita dan anak-anak.
Menanggapi gempuran tersebut, Hizbullah meluncurkan serangkaian serangan balasan yang luas. Kelompok perlawanan tersebut mengeklaim telah menargetkan infrastruktur militer 'Israel' di kota Haifa dengan rudal kualitatif serta mengirimkan drone penghancur ke barak militer Pranit.
Media 'Israel' mengonfirmasi adanya upaya intersepsi rudal yang mengarah ke Tel Aviv, sementara beberapa rudal lainnya dilaporkan jatuh di area terbuka. Di garis depan darat, Hizbullah melaporkan serangan bertubi-tubi terhadap konsentrasi tentara 'Israel' di pemukiman Avivim, Metula, hingga Shlomi di utara 'Israel'.
Di tengah gemuruh perang, arah kebijakan militer 'Israel' dilaporkan mulai bergeser. Saluran TV 13 'Israel' mengungkapkan bahwa militer tengah bersiap untuk mengurangi intensitas serangan di Lebanon. Hal ini merupakan hasil langsung dari tekanan Amerika Serikat, termasuk panggilan telepon antara Donald Trump dan Benjamin Netanyahu pada Kamis malam (9/4).
Trump secara terbuka menyatakan kepada media bahwa Netanyahu akan melunakkan tindakannya di Lebanon. Langkah ini diambil guna memastikan keberhasilan negosiasi besar dengan Iran yang sedang berlangsung. Trump dilaporkan meminta 'Israel' untuk tidak mengacaukan meja perundingan melalui eskalasi di Lebanon.
Perdana Menteri Netanyahu merespons tekanan tersebut dengan memerintahkan kabinetnya untuk mempersiapkan negosiasi langsung dengan Lebanon. "Negosiasi akan difokuskan pada pelucutan senjata Hizbullah dan pengaturan hubungan perdamaian antara 'Israel' dan Lebanon," ujar Netanyahu.
Pejabat AS mengonfirmasi bahwa pertemuan antara perwakilan 'Israel' dan Lebanon dijadwalkan berlangsung di Departemen Luar Negeri AS, Washington, pada pekan depan. Negosiasi ini dianggap krusial mengingat adanya sengketa tafsir mengenai apakah Lebanon termasuk dalam kesepakatan gencatan senjata AS-Iran. Sementara Pakistan dan Iran menegaskan Lebanon termasuk, AS dan 'Israel' hingga kini masih bersikeras bahwa front Lebanon adalah konflik yang terpisah. (zarahamala/arrahmah.id)
