ISLAMABAD (Arrahmah.id) – Menteri Pertahanan Pakistan, Khawaja Muhammad Asif, melontarkan kecaman keras terhadap "Israel", menyebutnya sebagai “kejahatan dan kutukan bagi umat manusia”, di tengah terus berlanjutnya agresi militer di kawasan, khususnya di Lebanon.
Dalam pernyataannya di platform X, Asif menegaskan bahwa "Israel" terus menumpahkan darah warga sipil tanpa henti.
“'Israel' membunuh warga tak bersalah—mulai dari Gaza, kemudian Iran, dan kini Lebanon. Pertumpahan darah ini terus berlangsung tanpa henti,” tulisnya.
Ia juga menyampaikan pernyataan yang sangat tajam dengan mengatakan, “Aku berdoa agar mereka yang mendirikan negara kanker ini di tanah Palestina untuk menyingkirkan Yahudi Eropa, terbakar di neraka.”
Pernyataan ini menjadi salah satu kecaman paling keras dari pejabat tinggi Pakistan sejak pecahnya konflik besar di kawasan.
Gencatan Senjata Rapuh
Kecaman tersebut muncul setelah tercapainya kesepakatan gencatan senjata selama dua pekan antara Amerika Serikat dan Iran, yang dimediasi oleh 1, sebagai langkah awal menuju penghentian perang yang pecah pada 28 Februari lalu.
Namun, di lapangan, situasi masih jauh dari kata stabil. Meski pihak Iran dan mediator Pakistan menyatakan bahwa Lebanon termasuk dalam cakupan kesepakatan, klaim tersebut dibantah oleh pihak Amerika Serikat dan "Israel".
"Israel" Bereaksi Keras
Menanggapi pernyataan Asif, kantor Perdana Menteri "Israel", 2, mengecam keras pernyataan tersebut dan menyebutnya sebagai provokatif.
“Seruan untuk menghancurkan 'Israel' adalah hal yang tidak dapat diterima, terlebih dari negara yang mengklaim dirinya sebagai mediator perdamaian,” demikian pernyataan resmi yang disampaikan melalui platform X.
Serangan Terus Berlanjut
Sementara itu, agresi militer "Israel" di Lebanon terus berlangsung meskipun gencatan senjata telah diumumkan. Dalam dua hari pertama masa jeda konflik, lebih dari 300 orang dilaporkan tewas dan ratusan lainnya luka-luka, menurut Kementerian Kesehatan Lebanon.
Tim penyelamat masih terus mengevakuasi korban dari bawah reruntuhan bangunan, sementara proses identifikasi jenazah juga terus dilakukan di sejumlah wilayah terdampak.
Berdasarkan data resmi, sejak 2 Maret hingga 9 April, total korban akibat serangan "Israel" di Lebanon mencapai 1.888 orang tewas dan 6.092 luka-luka, dengan sekitar 1,6 juta warga mengungsi.
Di tengah eskalasi ini, luasnya kehancuran dan meningkatnya jumlah korban menunjukkan bahwa gencatan senjata yang ada masih sangat rapuh, sementara ketegangan kawasan terus meningkat tanpa tanda-tanda mereda.
(Samirmuaa/arrahmah.id)
