Memuat...

Suriah Perkenalkan Lambang Negara Baru sebagai Bagian dari Transformasi Identitas Nasional

Zarah Amala
Sabtu, 5 Juli 2025 / 10 Muharam 1447 09:05
Suriah Perkenalkan Lambang Negara Baru sebagai Bagian dari Transformasi Identitas Nasional
Lambang nasional baru Suriah (SANA)

DAMASKUS (Arrahmah.id) - Republik Arab Suriah resmi meluncurkan identitas visual nasional baru yang menampilkan lambang elang emas yang telah didesain ulang. Para pejabat menyebut langkah ini sebagai upaya keluar dari bayang-bayang masa lalu otoritarian dan menuju negara yang dibangun atas dasar pelayanan, persatuan, serta legitimasi rakyat.

Lambang baru ini diperkenalkan dalam sebuah upacara kenegaraan di Damaskus pada Kamis (3/7/2025), sebagaimana dilaporkan oleh Kantor Berita Arab Suriah (SANA). Desain baru tersebut merupakan reinterpretasi dari ikon elang emas Suriah, dengan elemen-elemen simbolis yang mewakili sejarah, geografi, dan harapan negara pasca-konflik.

Desain ini menjadi inti dari inisiatif penjenamaan nasional yang lebih luas, yang bertujuan untuk membangun kembali citra Suriah, baik di dalam negeri maupun di mata dunia.

Elang telah lama memiliki makna penting dalam sejarah Suriah. Ia muncul dalam simbol-simbol militer awal Islam, termasuk dalam Perang Thaniyat Al-Uqab abad ke-7, dan menjadi bagian dari lambang negara Suriah sejak 1945.

Desain baru ini tetap mempertahankan kesinambungan sejarah, namun maknanya kini bergeser. Perisai perang yang sebelumnya digenggam oleh elang telah dihilangkan, digantikan oleh simbol-simbol baru yang mengedepankan rakyat dan rekonsiliasi.

Kini, di atas kepala elang terdapat tiga bintang yang mewakili rakyat, sebagai lambang bahwa rakyat berada “di atas negara.” Sementara itu, sayap elang terbuka dan seimbang, tidak lagi menyerang, dengan masing-masing sayap memiliki tujuh bulu yang melambangkan 14 provinsi Suriah.

Bagian ekor memiliki lima bulu yang mewakili lima kawasan geografis utama: utara, selatan, timur, barat, dan tengah Suriah, sebuah penghormatan terhadap semangat persatuan dan inklusivitas nasional, menurut laporan SANA.

Para pejabat menggambarkan desain ini sebagai “perjanjian politik visual” yang mengaitkan kesatuan wilayah dengan kesatuan dalam pengambilan keputusan nasional.

"Rakyat, yang cita-citanya menggantung di bintang-bintang langit, kini dijaga oleh negara yang melindungi dan memberdayakan mereka," bunyi pernyataan resmi saat peluncuran. "Sebagai gantinya, keterlibatan dan keberadaan rakyatlah yang menjamin kebangkitan negara."

Desain ini dimaksudkan untuk menjaga kesinambungan historis dengan lambang Suriah pasca-kemerdekaan tahun 1945, namun sekaligus mencerminkan visi negara Suriah modern yang lahir dari kehendak rakyatnya, terang SANA.

Pengangkatan bintang di atas elang melambangkan pembebasan dan pemberdayaan rakyat, serta transisi dari negara yang bersifat militeristik menjadi negara yang berpihak pada masyarakat sipil.

Simbol-simbol dalam lambang ini juga memperkuat integritas teritorial Suriah, dengan semua wilayah dan provinsi diwakili secara setara. Desain ini, menurut para pejabat, merepresentasikan kontrak nasional baru, yang mendefinisikan hubungan antara negara dan warga berdasarkan tanggung jawab bersama dan cita-cita bersama.

Lambang baru ini juga dimaksudkan sebagai penanda simbolis atas berakhirnya era negara represif, digantikan oleh semangat rekonstruksi dan pemberdayaan warga.

Presiden Ahmad Asy Syaraa, yang telah memposisikan pemerintahannya sebagai kekuatan pembaruan dan reformasi, menyebut perubahan ini sebagai lambang dari “pemerintahan yang lahir dari rakyat dan bekerja untuk rakyat.”

Identitas visual baru ini sepenuhnya dikembangkan oleh seniman dan desainer Suriah, termasuk seniman visual Khaled Al-Asali, sebagai upaya sadar untuk membumikan simbol baru ini dalam warisan dan kreativitas lokal.

Para pejabat menegaskan bahwa proses ini bukan semata-mata upaya rebranding, melainkan refleksi atas warisan budaya dan peradaban Suriah, sekaligus potensi masa depannya.

Menteri Luar Negeri Asaad Al-Shaibani, dalam sambutannya di acara tersebut, menyebut peluncuran lambang ini sebagai bagian dari transformasi yang lebih luas dalam tata kelola dan diplomasi Suriah.

"Dalam setiap pertemuan, kami membawa wajah baru Suriah," ujarnya. "Upaya kami telah mengembalikan Suriah ke panggung internasional, bukan sebagai harapan yang tertunda, melainkan sebagai kenyataan hari ini."

Ia menegaskan bahwa negara kini menolak “realitas yang membusuk” yang diwariskan dari rezim otoriter masa lalu, dan menyebut lambang baru ini sebagai simbol munculnya negara yang 'melindungi' dan memberdayakan rakyatnya, bukan mengontrol mereka.

Al-Shaibani menutup pernyataannya dengan menyebut momen ini sebagai “kematian budaya” bagi narasi rezim lama.

"Yang kita butuhkan hari ini adalah semangat nasional yang mampu merangkai kembali kepingan-kepingan identitas Suriah yang tercerai-berai, itulah titik awal untuk membangun masa depan." (zarahamala/arrahmah.id)