TEL AVIV (Arrahmah.id) - Sekembalinya dari kunjungan diplomatik di Amerika Serikat, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menegaskan bahwa Jalur Gaza tidak akan pernah lagi menjadi ancaman bagi 'Israel'. Dalam konferensi pers yang digelar Senin (16/2/2026), Netanyahu menyatakan bahwa demiliterisasi total Gaza akan dilakukan "dengan cara mudah atau cara sulit."
Netanyahu, yang saat ini menghadapi tuntutan dari Mahkamah Pidana Internasional (ICC) atas dugaan kejahatan perang, menekankan bahwa pelucutan senjata Hamas adalah harga mati. Ia memperluas definisi "senjata berat" yang harus diserahkan, mencakup senapan serbu Kalashnikov, peluncur roket anti-tank, hingga mortir.
"Kami tidak akan membiarkan tragedi 7 Oktober 2023 terulang kembali," tegasnya. Meski ia mengeklaim senjata berat Hamas sudah musnah, ia bersikeras bahwa senjata ringan sekalipun harus ditarik dari peredaran guna menjamin keamanan absolut Israel.
Netanyahu juga mengumumkan rencana strategis untuk mengurangi ketergantungan militer 'Israel' pada dukungan Amerika Serikat, seraya menegaskan bahwa Israel akan memiliki kekuatan mandiri untuk menghalau setiap serangan di masa depan.
Selain isu Gaza, fokus utama kunjungan Netanyahu ke Washington adalah program nuklir Iran. Ia menetapkan syarat ketat bagi setiap kesepakatan diplomatik dengan Teheran. Seluruh uranium yang telah diperkaya harus dikeluarkan dari wilayah Iran. Kesepakatan tidak boleh hanya menghentikan pengayaan, melainkan harus membongkar seluruh infrastruktur nuklir Iran. Jarak tempuh rudal balistik Iran harus dibatasi maksimal hanya 300 kilometer.
Netanyahu menuduh Iran melakukan penipuan sistematis dan memperingatkan bahwa setiap kesepakatan harus menjamin keamanan global, bukan hanya 'Israel'.
Laporan dari situs berita AS, Axios, mengungkapkan bahwa dalam pertemuan di Gedung Putih Rabu lalu, Donald Trump dan Netanyahu sepakat untuk melanjutkan kebijakan "tekanan maksimum" terhadap Iran. Strategi utama yang disepakati adalah memangkas habis ekspor minyak Iran ke Tiongkok.
Meski keduanya memiliki tujuan akhir yang sama, mencegah Iran memiliki senjata nuklir, Axios mencatat adanya perbedaan pendapat mengenai taktik atau cara terbaik untuk mencapai tujuan tersebut. Trump dikabarkan masih bertekad untuk menjajaki kemungkinan kesepakatan baru melalui jalur negosiasi sebelum mengambil langkah lebih jauh.
Sementara itu, Teheran terus membantah tuduhan pengembangan senjata nuklir dan menegaskan bahwa program mereka murni untuk tujuan damai, seperti pembangkit listrik medis dan sipil. (zarahamala/arrahmah.id)
