GAZA (Arrahmah.id) - Pembukaan berkas jenazah tawanan terakhir 'Israel' menjadi ujian baru bagi kesepakatan gencatan senjata di Gaza. Isu ini mencuat di tengah persimpangan tekanan terbuka dari Amerika Serikat, manuver politik internal 'Israel', serta upaya untuk menyusun kembali prioritas regional.
Setelah pengumuman sayap militer Hamas yang menyatakan telah menyerahkan seluruh informasi terkait jenazah tersebut, muncul pertanyaan besar: Sejauh mana 'Israel' dapat menghindar dari implementasi kesepakatan? Dan apa yang dipertaruhkan oleh pemerintahan Benjamin Netanyahu untuk menghambat transisi ke fase kedua di bawah pengawasan pemerintahan Donald Trump?
Pakar urusan 'Israel', Mtanes Shehadeh, menilai bahwa pengangkatan kembali isu jenazah ini bukan tanpa sengaja. 'Israel' mencoba membesar-besarkan masalah ini untuk menjadikannya alat tekan dalam negosiasi, khususnya terkait pembukaan pintu perbatasan Rafah dan transisi ke fase kedua.
Shehadeh melihat Netanyahu sadar akan adanya tekanan nyata dari Trump untuk membuka gerbang Rafah. Namun, Netanyahu ingin menyajikan langkah tersebut nantinya sebagai "pencapaian yang diraih melalui perjuangan internal," guna menunjukkan dirinya di hadapan Trump sebagai pemimpin kuat yang mampu memaksakan syarat-syaratnya.
Sementara itu, Radio Militer 'Israel' melaporkan bahwa tentara sedang melakukan pencarian jenazah prajurit Ran Gvili di lingkungan Al-Zaitun berdasarkan informasi intelijen. Channel 12 'Israel' menambahkan bahwa operasi pencarian dimulai semalam di sebuah pemakaman di antara lingkungan Al-Daraj, Al-Tuffah, dan Al-Shujaiya, serta memperkirakan operasi kompleks ini akan berlangsung selama beberapa hari.
Analis politik Iyad al-Qara berpendapat bahwa pihak perlawanan (Hamas) telah mematahkan argumen Netanyahu dengan menyerahkan seluruh informasi yang ada. Hal ini dibuktikan dengan pergerakan tentara 'Israel' ke lokasi-lokasi yang telah diinformasikan.
Namun, Al-Qara mengungkapkan kekhawatiran pihak perlawanan, 'Israel' mungkin saja menemukan jenazah tersebut tetapi menolak untuk mengumumkannya secara resmi. Tujuannya agar isu ini tetap menjadi kartu truf untuk menunda implementasi kesepakatan dan menghambat pembukaan gerbang Rafah, meskipun lokasi pencarian berada di bawah kendali penuh militer 'Israel'.
Pakar politik Timur Tengah, Mahjoob Zweiri, memperingatkan bahwa skenario penguluran waktu masih sangat mungkin terjadi meskipun ada tekanan dari AS. Sejak penandatanganan kesepakatan, 'Israel' dinilai belum menunjukkan keinginan tulus untuk gencatan senjata permanen.
Zweiri mencatat serangkaian hambatan yang diciptakan 'Israel' untuk menunda pembukaan gerbang Rafah, mulai dari penolakan terhadap pasukan keamanan Palestina, keberatan atas peran Eropa, hingga usulan pengaturan keamanan baru. Lebih jauh, Netanyahu berharap isu-isu internasional lain, terutama Iran, akan mencuat ke permukaan guna mengalihkan perhatian dunia dari Gaza.
Sebagai catatan, Netanyahu berulang kali menegaskan dua syarat mutlak untuk memasuki fase kedua, penyerahan jenazah tawanan terakhir dan demiliterisasi total Hamas serta Jalur Gaza. (zarahamala/arrahmah.id)
