Memuat...

AI Lebih Berbahaya dari Perang? Thomas Friedman Peringatkan Ancaman Global Baru

Samir Musa
Kamis, 9 April 2026 / 21 Syawal 1447 15:52
AI Lebih Berbahaya dari Perang? Thomas Friedman Peringatkan Ancaman Global Baru
AI Lebih Berbahaya dari Perang? Thomas Friedman Peringatkan Ancaman Global Baru

WASHINGTON (Arrahmah.id) – Dunia mungkin tengah memasuki babak baru ancaman global yang tak kalah berbahaya dibanding perang konvensional. Hal ini diungkapkan oleh Thomas Friedman, analis politik terkemuka dan kolumnis The New York Times (8/4/2026).

Dalam tulisannya, Friedman menyoroti peluncuran model kecerdasan buatan terbaru dari perusahaan Anthropic yang dinamakan Claude Mythos Preview. Menurutnya, teknologi ini telah memicu kekhawatiran serius di kalangan geopolitik dan keamanan global—bahkan melampaui ketegangan militer yang sedang berlangsung.

Ia menjelaskan bahwa model tersebut menunjukkan kemampuan luar biasa dalam mendeteksi celah keamanan pada sistem perangkat lunak paling kompleks di dunia. Kekhawatiran ini begitu besar hingga perusahaan memutuskan untuk membatasi penggunaannya hanya pada aliansi kecil perusahaan teknologi raksasa.

Mampu Retas Infrastruktur Dunia

Model yang juga dikenal dengan nama internal “Project Glasswing” ini tidak hanya mampu menulis kode kompleks, tetapi juga secara otomatis menemukan ribuan celah keamanan kritis pada sistem operasi dan browser utama.

Sistem-sistem tersebut mengendalikan infrastruktur vital dunia—mulai dari jaringan listrik, air, bandara, hingga sistem militer dan rumah sakit.

“Jika teknologi ini jatuh ke tangan pihak jahat, maka mereka bisa menembus hampir semua sistem penting di dunia,” tulis Friedman.

Aliansi terbatas yang diberi akses mencakup perusahaan besar seperti Microsoft dan raksasa teknologi lainnya, yang bertugas memperkuat pertahanan sistem global sebelum teknologi ini meluas.

Penulis Amerika terkemuka yang dekat dengan “Israel”, Thomas Friedman (Getty).

Ancaman Nyata, Bukan Sekadar Teori

Friedman menegaskan bahwa ancaman ini bukan lagi sekadar spekulasi. Diskusi serius telah berlangsung antara perusahaan teknologi dan pemerintah Amerika Serikat terkait dampaknya terhadap keamanan nasional.

Menurutnya, teknologi ini memiliki dua sisi: di satu sisi memperkuat keamanan, namun di sisi lain dapat menjadi senjata siber paling berbahaya jika disalahgunakan.

Ia bahkan menyamakan momen ini dengan era awal penemuan senjata nuklir—di mana kontrol dan pembatasan menjadi kebutuhan mendesak.

Menuju Era AI Super yang Tak Terkendali?

Friedman memperingatkan bahwa dunia kini bergerak cepat menuju era superintelligent AI, lebih cepat dari yang diperkirakan para pengembangnya sendiri.

Ia mengutip pakar teknologi Craig Mundie, mantan eksekutif Microsoft, yang menyatakan:

“Kita sedang menuju era di mana kemampuan serangan siber tingkat tinggi tersedia bagi semua orang.”

3 Langkah Mendesak Cegah Bencana Digital

  • Pengawasan ketat terhadap penyebaran model AI canggih
  • Memberi waktu bagi pihak “baik” untuk memperkuat sistem mereka
  • Membangun lingkungan digital aman untuk melindungi layanan vital

Mana yang Lebih Diingat Sejarah?

Di akhir tulisannya, Friedman mengajukan pertanyaan reflektif: peristiwa mana yang akan lebih dikenang dalam sejarah?

Apakah keputusan Donald Trump menunda serangan terhadap Iran, atau peluncuran terbatas teknologi AI berbahaya oleh Anthropic?

“Jawabannya mungkin akan menentukan masa depan keamanan dunia,” pungkasnya.

(Samirmusa/arrahmah.id)