Memuat...

Bentak Wartawan di Depan Publik, Menteri Perang AS Picu Amarah dan Kontroversi Besar

Samir Musa
Kamis, 9 April 2026 / 21 Syawal 1447 15:31
Bentak Wartawan di Depan Publik, Menteri Perang AS Picu Amarah dan Kontroversi Besar
Pete Hegseth saat konferensi pers di Pentagon, Washington (AFP)

WASHINGTON (Arrahmah.id) — Suasana konferensi pers Menteri Perang Amerika Serikat, Pete Hegseth, mendadak memanas setelah ia secara terbuka membentak seorang jurnalis wanita, memicu gelombang reaksi luas di media sosial di Amerika Serikat.

Insiden itu terjadi saat konferensi pers yang membahas perkembangan perang dengan Iran. Ketegangan muncul ketika seorang jurnalis menyela pertanyaan rekannya untuk mengajukan pertanyaan terkait serangan Iran.

Dengan nada tinggi, Hegseth langsung menegur jurnalis tersebut.

"Permisi, kenapa Anda sangat tidak sopan? Tunggu. Saya yang menentukan siapa yang berbicara," katanya dengan tegas, sebelum menambahkan, "Sangat tidak sopan."

Ketegangan di dalam ruangan pun tak terelakkan. Sejumlah jurnalis menyuarakan keberatan terhadap cara pengaturan sesi tanya jawab, menilai bahwa wartawan di barisan belakang kerap tidak mendapat kesempatan yang adil untuk bertanya.

Konferensi pers itu digelar bersama Ketua Kepala Staf Gabungan, Dan Caine, hanya beberapa jam setelah Presiden Donald Trump mengumumkan kesepakatan gencatan senjata selama dua pekan dengan Iran, yang disebut tercapai melalui mediasi Pakistan.

Dari ruang konferensi ke media sosial

Dampak insiden tersebut dengan cepat meluas ke dunia maya. Publik Amerika terbelah dalam menilai sikap Hegseth.

Sebagian pengguna media sosial menilai tindakannya sebagai langkah tegas untuk menjaga ketertiban konferensi. Namun, tidak sedikit yang menganggapnya sebagai sikap agresif terhadap kebebasan pers.

"Jika Anda pernah mengalami kekerasan, Anda akan langsung mengenali nada seperti itu," tulis seorang pengguna, mengkritik gaya bicara sang menteri.

Sementara itu, komentar lain bernada satir menyebut, "Sulit menciptakan karakter seperti Hegseth bahkan dalam karya fiksi."

Di sisi lain, para pendukung Hegseth berargumen bahwa interupsi antarjurnalis memang membutuhkan respons tegas demi menjaga jalannya forum resmi.

Klaim kemenangan dan pesan untuk Teheran

Dalam konferensi yang sama, Hegseth juga menegaskan bahwa Amerika Serikat telah mencapai seluruh target militernya dalam operasi bersama melawan Iran.

Ia menyebut bahwa tekanan militer, termasuk serangan terhadap target strategis seperti di Pulau Khark, telah mengirimkan "pesan yang jelas" kepada Teheran.

Menurutnya, kepemimpinan Iran kini menyadari bahwa jalur diplomasi lebih menguntungkan dibandingkan eskalasi konflik.

Hegseth bahkan menyebut operasi militer yang dinamainya sebagai “kemarahan epik” sebagai “kemenangan militer dan historis dalam segala ukuran”, sembari memuji peran Presiden Donald Trump yang diklaimnya sebagai arsitek momen tersebut.

Ia juga menegaskan bahwa Washington siap melanjutkan operasi militer jika diperlukan, namun berharap Iran akan memilih jalan “perdamaian permanen”.

Insiden ini sekali lagi menyoroti ketegangan yang kerap muncul antara pejabat tinggi dan media, terutama di tengah situasi geopolitik yang memanas.

(Samirmusa/arrahmah.id)