Memuat...

AS Siapkan Opsi Bom 8,5 Ton untuk Serang Iran

Hanoum
Jumat, 16 Oktober 2026 / 6 Jumadilawal 1448 08:50
AS Siapkan Opsi Bom 8,5 Ton untuk Serang Iran
Sebuah senjata Massive Ordnance Air Blast Bomb (MOAB) di Pangkalan Angkatan Udara Eglin, Florida, pada 11 Maret 2003. [Foto: Departemen Pertahanan/Getty Images]

WASHINGTON (Arrahmah.id) -- Militer Amerika Serikat (AS) dilaporkan menyiapkan opsi penggunaan bom konvensional raksasa seberat hampir 10 ton, yang dijuluki Mother of All Bombs (MOAB), untuk menyerang infrastruktur energi dan fasilitas nuklir Iran. Rencana tersebut, yang diungkap CNN pada Kamis (15/10/2026) dengan mengutip sejumlah pejabat AS.

Menurut laporan Reuters dan Al Jazeera, bom yang dimaksud adalah GBU-43/B Massive Ordnance Air Blast (MOAB) yang mengandung sekitar 8.500 kilogram bahan peledak.

Militer AS mempertimbangkan penggunaannya jika Trump memerintahkan serangan baru terhadap Iran, baik sebelum maupun setelah pemilihan paruh waktu AS. Belum ada kepastian bahwa senjata tersebut akan benar-benar digunakan.

Salah satu sasaran yang disebut dalam rencana itu adalah infrastruktur energi Iran, selain fasilitas terkait program nuklirnya, termasuk kawasan Gunung Pickaxe yang diyakini AS dan Israel menyimpan komponen program nuklir Iran. Washington menyatakan ingin mencegah Teheran memperoleh senjata nuklir.

MOAB merupakan bom nonnuklir terbesar dalam persenjataan AS dan dirancang menghasilkan ledakan serta gelombang kejut yang sangat besar di permukaan. Senjata ini memiliki berat total sekitar 9.800 kilogram dan panjang lebih dari sembilan meter. Penggunaannya memerlukan pesawat angkut yang sesuai, seperti C-130 Hercules, karena ukurannya tidak memungkinkan untuk dibawa oleh pesawat pengebom siluman.

Meski daya hancurnya besar, sejumlah pejabat dan pakar militer meragukan efektivitas MOAB untuk menghancurkan fasilitas nuklir Iran yang berada jauh di bawah tanah dan terlindungi lapisan batuan serta beton.

Al Jazeera menjelaskan bahwa MOAB lebih dirancang untuk menghasilkan daya ledak luas di permukaan, berbeda dengan GBU-57 Massive Ordnance Penetrator yang secara khusus dirancang menembus target bawah tanah yang diperkuat.

Jika digunakan, MOAB berpotensi memperbesar eskalasi konflik dan menimbulkan risiko korban sipil, terutama apabila sasaran berada dekat kawasan permukiman atau fasilitas nonmiliter.

Para pejabat yang dikutip CNN juga mempertanyakan apakah penggunaan bom tersebut akan benar-benar membantu AS mencapai tujuan strategisnya atau justru menambah kehancuran tanpa memaksa Iran mengubah sikap. (hanoum/arrahmah.id)