WASHINGTON (Arrahmah.id) – Dunia menahan napas. Hanya beberapa jam tersisa sebelum tenggat yang ditetapkan oleh Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, terhadap Iran berakhir—dan keputusan yang akan diambil berpotensi menentukan arah konflik besar di kawasan.
Di tengah ketegangan yang terus meningkat, sumber-sumber Amerika mengungkapkan bahwa opsi yang berada di meja Trump masih terbuka lebar: memperpanjang tenggat atau melancarkan eskalasi militer besar-besaran.
Ancaman ini terkait langsung dengan tuntutan Washington agar Iran membuka jalur strategis Selat Hormuz—urat nadi perdagangan energi dunia.
Skenario Menggantung: Diplomasi atau Serangan
Menurut laporan media Amerika, Trump masih mempertimbangkan untuk menunda aksi militer jika ada tanda-tanda kesepakatan mulai terbentuk. Namun, keputusan akhir sepenuhnya berada di tangannya.
Seorang pejabat tinggi AS menyebut bahwa situasi akan tetap “sangat tegang” hingga batas waktu yang ditentukan, Selasa pukul 20.00 waktu setempat.
Sementara itu, laporan The Wall Street Journal menyebutkan bahwa para pejabat dan mediator tidak menutup kemungkinan Trump kembali memperpanjang tenggat—seperti yang pernah ia lakukan sebelumnya.
Di balik itu, ada faktor politik domestik. Kekhawatiran meningkat di kalangan Partai Republik bahwa perang berkepanjangan di
dapat memicu lonjakan harga bahan bakar dan merusak peluang mereka dalam pemilu mendatang.
Awan Gelap: Rencana Serangan Sudah Siap
Namun di sisi lain, sinyal eskalasi juga semakin kuat. Pejabat Amerika mengakui bahwa jurang perbedaan antara Washington dan Teheran masih sangat lebar—bahkan dinilai sulit dijembatani sebelum tenggat berakhir.
Lebih mengkhawatirkan lagi, sumber-sumber menyebut bahwa rencana serangan besar Amerika-“Israel” terhadap fasilitas energi Iran telah disiapkan dan siap dijalankan jika Trump memberi perintah.
Pejabat Iran, melalui jalur diplomatik, juga mengungkapkan kekhawatiran bahwa serangan tidak akan berhenti bahkan jika kesepakatan tercapai. Mereka juga takut operasi pembunuhan oleh “Israel” terhadap pejabat tinggi Iran akan terus berlanjut.
Trump berada di tengah, diapit Menteri Luar Negerinya (kanan) dan wakilnya, sementara di sisi kanan gambar tampak Menteri Pertahanan Hegseth (Reuters).
Trump: Lebih Keras dari Lingkar Dalamnya
Dalam perkembangan yang mengejutkan, laporan menyebutkan bahwa Trump justru menjadi sosok paling keras dalam pemerintahannya sendiri terkait Iran.
Sumber yang dekat dengan Gedung Putih menggambarkan sikap Trump sebagai “paling haus darah”, bahkan dibandingkan tokoh-tokoh yang selama ini dikenal keras seperti Menteri Luar Negeri Marco Rubio.
Penilaian ini menegaskan bahwa arah kebijakan saat ini sangat bergantung pada keputusan pribadi Trump—bukan semata konsensus internal pemerintahannya.
Jalur Negosiasi: Proposal Iran dan Harapan Terakhir
Meski bayang-bayang perang semakin nyata, jalur diplomasi belum sepenuhnya tertutup.
Menurut laporan The New York Times, Iran telah mengajukan proposal 10 poin untuk mengakhiri perang. Di antaranya:
- Pencabutan sanksi terhadap Iran
- Jaminan tidak ada serangan lanjutan
- Penghentian agresi “Israel” terhadap Hezbollah
- Pembukaan kembali Selat Hormuz
Sebagai imbalannya, Iran disebut akan membuka jalur pelayaran di selat tersebut dan menerapkan biaya transit kapal, yang hasilnya akan dibagi dengan Oman.
Dana itu rencananya akan digunakan untuk membangun kembali infrastruktur Iran yang hancur akibat serangan.
Upaya mediasi juga melibatkan Pakistan, yang disebut memainkan peran penting dalam menjembatani komunikasi kedua pihak.
Detik Penentu
Meski ada upaya diplomasi, peluang tercapainya kesepakatan dalam waktu dekat dinilai sangat kecil.
Para pejabat dari berbagai pihak sepakat bahwa 48 jam terakhir ini merupakan kesempatan terakhir untuk mencegah eskalasi besar—yang bisa mencakup serangan luas terhadap infrastruktur sipil Iran.
Jika itu terjadi, Iran diperkirakan akan membalas dengan serangan ke berbagai target di kawasan, membuka babak baru konflik yang jauh lebih luas dan berbahaya.
Kini, dunia hanya bisa menunggu—apakah Trump memilih jalan diplomasi, atau justru menyalakan api perang yang lebih besar.
(Samirmusa/arrahmah.id)
