WASHINGTON (Arrahmah.id) - Menjelang berakhirnya tenggat waktu yang ditetapkan Presiden Donald Trump, upaya diplomasi intensif tengah berlangsung untuk mencegah eskalasi militer total. Iran dilaporkan telah mengajukan proposal balasan berisi 10 poin sebagai syarat untuk mengakhiri perang yang telah berlangsung selama 39 hari ini.
Menurut laporan New York Times, proposal Teheran mencakup tuntutan pencabutan sanksi, jaminan keamanan agar tidak diserang kembali, serta penghentian serangan 'Israel' terhadap Hizbullah. Sebagai imbalannya, Iran menawarkan pembukaan kembali Selat Hormuz dengan skema retribusi sebesar 2 juta dolar AS per kapal, yang hasilnya akan dibagi dengan Kesultanan Oman.
Situs berita Politico melaporkan bahwa negosiasi dari pihak AS dipimpin oleh utusan khusus Steve Witkoff dan menantu Trump, Jared Kushner. Presiden Trump juga mengonfirmasi keterlibatan Wakil Presiden JD Vance dalam proses sensitif ini.
"Kami bernegosiasi dengan mereka hingga pukul delapan malam besok waktu AS. Saya pikir semuanya berjalan cukup baik," ujar Trump kepada wartawan pada Senin (6/4/2026).
Juru bicara Gedung Putih, Anna Kelly, menambahkan bahwa meskipun tim keamanan nasional sedang mengupayakan perdamaian, militer AS tetap dalam posisi siaga penuh. "Iran akan dikembalikan ke zaman primitif besok malam jika mereka tidak serius menghadapi kenyataan saat ini," tegas Kelly.
Di sisi lain, 'Israel' menyatakan skeptisisme tinggi terhadap peluang kesepakatan ini. Sumber internal 'Israel' yang dikutip CNN mengungkapkan bahwa Perdana Menteri Benjamin Netanyahu menuntut syarat yang lebih berat: Iran harus menyerahkan seluruh cadangan uranium yang diperkaya dan menghentikan total aktivitas pengayaan sebagai bagian dari gencatan senjata.
Sebagai langkah antisipasi kegagalan diplomasi, pejabat keamanan 'Israel' mengonfirmasi bahwa Tel Aviv telah menyetujui daftar target terbaru yang mencakup situs energi dan infrastruktur vital di seluruh Iran, menunggu lampu hijau dari Gedung Putih.
Berdasarkan laporan Axios, para mediator regional (termasuk Pakistan sebagai perantara utama) tengah menjajaki kemungkinan gencatan senjata sementara selama 45 hari. Periode ini dimaksudkan sebagai masa tenang untuk merundingkan pengakhiran perang secara permanen.
Namun, peluang tercapainya kesepakatan dalam sisa waktu kurang dari 24 jam ini dinilai sangat terbatas. Jika gagal, kawasan Timur Tengah bersiap menghadapi serangan udara besar-besaran yang menargetkan infrastruktur sipil Iran, yang diprediksi akan memicu balasan serupa dari Teheran ke berbagai objek vital di wilayah tersebut. (zarahamala/arrahmah.id)
