Memuat...

Trump Berang, Jurnalis Pembocor Operasi Penyelamatan Pilot di Iran Terancam Penjara

Zarah Amala
Selasa, 7 April 2026 / 19 Syawal 1447 11:06
Trump Berang, Jurnalis Pembocor Operasi Penyelamatan Pilot di Iran Terancam Penjara
Trump mengakui bahwa operasi penyelamatan tentara Amerika di wilayah Iran sangatlah sulit (AFP).

WASHINGTON (Arrahmah.id) - Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengancam akan memenjarakan jurnalis yang membocorkan informasi mengenai operasi penyelamatan pilot jet tempur F-15E yang jatuh di Iran. Trump menegaskan bahwa kebocoran tersebut telah membahayakan nyawa personel militer dan keamanan nasional.

Dalam konferensi pers di Gedung Putih, Trump menyatakan akan menuntut jurnalis pertama yang melaporkan penyelamatan salah satu awak Angkatan Udara AS untuk mengungkap sumber informasinya. "Serahkan sumber itu atau masuk penjara demi pertimbangan keamanan nasional," tegas Trump.

Menurut Trump, pihak Iran awalnya tidak menyadari adanya pilot Amerika yang hilang setelah jet tempur tersebut jatuh pada Jumat lalu (3/4/2026). Namun, publikasi informasi tersebut membuat posisi pilot kedua yang masih bersembunyi menjadi terancam.

"Iran tidak tahu salah satu pilot hilang sampai ada sumber yang membocorkan informasi ini. Kami sedang berupaya keras menemukan orang (pembocor) itu," ujar Trump. Meski sempat terancam, Trump mengonfirmasi bahwa kedua pilot akhirnya berhasil diselamatkan dengan selamat.

Presiden Trump juga membeberkan rincian operasi yang berlangsung selama 48 jam tersebut. Ia mengungkapkan bahwa misi penyelamatan ini melibatkan 21 pesawat militer yang terbang rendah memasuki wilayah udara Iran.

Beberapa poin kunci operasi yang disampaikan Trump antara lain: pasukan AS mengeklaim telah menghancurkan sistem pertahanan udara dan radar Iran untuk membuka jalur penyelamatan. Iran dilaporkan membalas dengan menembakkan rudal panggul (MANPADS) ke arah helikopter dan pesawat penyelamat AS.

Trump menyebut keputusan meluncurkan misi ini sangat sulit karena berisiko kehilangan hingga 100 personel jika operasi gagal.

Ancaman terhadap jurnalis ini menambah panjang daftar ketegangan antara administrasi Trump dengan institusi media. Trump secara terbuka mengkritik liputan media terkait perang AS-'Israel' melawan Iran yang dianggapnya terlalu negatif.

Menurut laporan media internasional, Trump secara pribadi telah mengeluhkan pemberitaan beberapa pekan terakhir kepada para asistennya. Hal ini memicu kekhawatiran di kalangan aktivis kebebasan pers mengenai penggunaan isu keamanan nasional untuk menekan independensi jurnalisme di tengah situasi perang yang sedang berlangsung sejak Februari lalu. (zarahamala/arrahmah.id)