Memuat...

Iran Tolak Gencatan Senjata, Ajukan Syarat Keras: Cabut Sanksi atau Perang Berlanjut

Samir Musa
Selasa, 7 April 2026 / 19 Syawal 1447 06:34
Iran Tolak Gencatan Senjata, Ajukan Syarat Keras: Cabut Sanksi atau Perang Berlanjut
(Ilustrusi: Arrahmah.id)

TEHERAN (Arrahmah.id) – Iran dilaporkan telah menyampaikan respons resminya terhadap proposal Amerika Serikat terkait penghentian perang, dengan menolak opsi gencatan senjata sementara dan menegaskan bahwa solusi harus bersifat permanen serta memenuhi tuntutan strategisnya.

Menurut laporan kantor berita resmi IRNA (6/4/2026) respons tersebut disampaikan melalui Pakistan sebagai mediator regional. Dalam jawabannya, Iran menegaskan bahwa penghentian konflik tidak cukup hanya melalui jeda sementara, melainkan harus mengarah pada pengakhiran perang secara total dengan mempertimbangkan kepentingan dan tuntutan Teheran.

Di antara tuntutan utama yang diajukan Iran adalah rekonstruksi pascaperang, pencabutan sanksi internasional, serta penyusunan mekanisme keamanan kawasan, termasuk protokol pelayaran aman di Selat Hormuz yang menjadi jalur vital energi dunia.

Proposal 45 Hari Masih Mengambang

Sebelumnya, sejumlah laporan media mengungkap adanya usulan gencatan senjata selama 45 hari antara Amerika Serikat dan Iran. Namun, proposal tersebut masih dalam tahap pembahasan dan belum mendapatkan persetujuan dari Presiden AS, Donald Trump.

Seorang pejabat Gedung Putih menyebut bahwa rencana tersebut hanyalah salah satu dari berbagai opsi yang sedang dipertimbangkan, sementara operasi militer AS di wilayah Iran masih terus berlangsung dengan intensitas tinggi.

Di sisi lain, laporan Associated Press menyebut bahwa mediator dari Mesir, Pakistan, dan Turki telah mengajukan rancangan kesepakatan yang mencakup penghentian sementara konflik serta pembukaan kembali jalur pelayaran di Selat Hormuz, guna memberi ruang bagi diplomasi mencapai solusi jangka panjang.

Namun hingga kini, belum ada tanggapan resmi dari kedua pihak terkait proposal tersebut.

“Perlombaan dengan Waktu”

Laporan CNN menyebut bahwa negara-negara yang mendorong penghentian perang tengah berpacu dengan waktu untuk mencegah eskalasi lebih lanjut. Meski demikian, Presiden Trump disebut belum memberikan lampu hijau terhadap rencana tersebut.

Sementara itu, harian Israel Haaretz mengutip sumber diplomatik yang menyebut bahwa Pakistan menilai keputusan strategis di Iran saat ini berada di tangan komandan Korps Garda Revolusi Islam, Ahmad Vahidi.

Menurut penilaian tersebut, Vahidi diyakini tidak akan menerima kompromi dalam kesepakatan apa pun, karena ia meyakini Iran berada di posisi unggul dalam konflik melawan Amerika Serikat dan "Israel".

Bahkan, disebutkan bahwa Iran memiliki sekitar 15.000 rudal balistik dan lebih dari 45.000 drone tempur sebagai bagian dari kekuatan militernya.

Iran: Musuh Sudah Gagal

Juru bicara militer Iran, Mohammad Akraminia, menegaskan bahwa negaranya akan terus melanjutkan pertempuran hingga pihak lawan “mencapai titik penyesalan”.

Ia menyatakan bahwa Amerika Serikat dan "Israel" telah gagal mencapai tujuan mereka dalam perang melawan Iran.

“Kami akan terus berjuang hingga musuh benar-benar merasakan penyesalan, agar serangan di masa depan dapat dicegah,” ujarnya, sebagaimana dikutip media Iran.

Menurutnya, kelanjutan perang saat ini justru bertujuan memberikan efek jera strategis kepada pihak lawan.

(Samirmusa/arrahmah.id)