WASHINGTON (Arrahmah.id) - Ketegangan di Timur Tengah mencapai titik kulminasi menjelang berakhirnya tenggat waktu yang ditetapkan Presiden AS Donald Trump bagi Iran pada Selasa (7/4/2026). Indikasi lapangan menunjukkan pergeseran kuat dari jalur diplomasi ke arah aksi militer besar-besaran yang bertujuan melumpuhkan infrastruktur vital Teheran.
Pakar militer Kolonel Nidal Abu Zaid menyatakan bahwa pergerakan militer Amerika Serikat sejak Senin malam (6/2/2026) telah menunjukkan persiapan serangan udara yang terbatas namun komprehensif secara geografis.
Sejumlah langkah strategis yang diambil Washington dalam 24 jam terakhir meliputi pengiriman pesawat pengebom stealth B-2 Spirit ke pangkalan-pangkalan udara di Eropa dan penyiapan stok penuh rudal jelajah Joint Air-to-Surface Standoff Missile (JASSM) yang memiliki hulu ledak 910 kg dengan jangkauan 950 km.
AS mulai memberlakukan pembatasan ketat terhadap perusahaan satelit komersial untuk mengambil citra udara di wilayah Iran guna mengontrol narasi visual pasca-serangan.
Di pihak lain, otoritas 'Israel' telah mengeluarkan instruksi darurat kepada warganya untuk mulai menggunakan terowongan dan stasiun metro sebagai tempat berlindung. Langkah ini mencerminkan kekhawatiran tinggi akan serangan balasan rudal Iran yang lebih dahsyat.
Lembaga penyiaran publik 'Israel' melaporkan bahwa Tel Aviv kini bersiap untuk melakukan operasi gabungan dengan AS untuk menggempur infrastruktur kritis Iran segera setelah ultimatum Trump berakhir pada Selasa pukul 20.00 waktu setempat.
Meski kapasitas pertahanannya dilaporkan telah tergerus sejak dimulainya perang pada 28 Februari lalu, Iran mulai menyebarkan kembali sistem pertahanan udara di sekitar ibu kota Teheran. Kolonel Abu Zaid menilai langkah ini sebagai sinyal tempur terakhir bahwa Iran tidak akan menyerah meski berada di bawah ancaman kehancuran total.
Dalam pernyataan terbarunya, Presiden Donald Trump menegaskan bahwa ultimatum Selasa ini adalah harga mati. Ia menuntut Iran untuk menyerah"atau menghadapi kehancuran total pada infrastruktur energi dan transportasi mereka.
"Jika tidak (menyerah), mereka tidak akan lagi memiliki jembatan maupun pembangkit listrik," ujar Trump, mengulangi sumpahnya untuk "mengembalikan Iran ke Zaman Batu."
Perang yang pecah sejak akhir Februari 2026 ini telah melumpuhkan kepemimpinan tertinggi Iran, termasuk kematian Pemimpin Tertinggi Ali Khamenei dan sejumlah petinggi militer lainnya. Kini, dunia menantikan apakah sisa waktu beberapa jam ini akan berakhir dengan kesepakatan atau bola api baru yang akan menerangi langit Teheran. (zarahamala/arrahmah.id)
