Memuat...

Ekonomi 'Israel' Terguncang, Biaya Perang 38 Hari Tembus 254,89 Triliun Rupiah

Zarah Amala
Senin, 6 April 2026 / 18 Syawal 1447 10:45
Ekonomi 'Israel' Terguncang, Biaya Perang 38 Hari Tembus 254,89 Triliun Rupiah
Sebuah pabrik di Beersheba rusak akibat serangan artileri Iran (media 'Israel').

TEL AVIV (Arrahmah.id) - Memasuki hari ke-38 perang melawan Iran dan Hizbullah di Lebanon, ekonomi 'Israel' dilaporkan mengalami tekanan hebat dengan total biaya mencapai sedikitnya 15 miliar dolar AS (sekitar Rp254,89 triliun). Angka ini diprediksi akan terus membengkak seiring meluasnya cakupan pertempuran dan dampak ekonomi jangka panjang yang mulai terasa.

Laporan dari surat kabar ekonomi 'Israel', Calcalist, menyebutkan bahwa Kementerian Pertahanan 'Israel' telah mengajukan tambahan anggaran sebesar 12,4 miliar dolar AS (Rp210,71 triliun) untuk menutup biaya operasional militer.

Para analis memperkirakan anggaran keamanan akan terus meningkat hingga tahun depan, mengingat persiapan menghadapi potensi konflik berkepanjangan dengan Iran dan Hizbullah.

Perang ini memaksa pemerintah 'Israel' untuk meningkatkan anggaran keamanan jangka panjang secara permanen, membatalkan rencana efisiensi anggaran yang sebelumnya dicanangkan.

Di sektor sipil, dampak serangan roket Iran dan Hizbullah mulai membebani kas negara. Otoritas terkait mencatat sekitar 26.000 permintaan ganti rugi atas kerusakan properti akibat serangan roket, dengan nilai estimasi mencapai 320 hingga 450 juta dolar AS.

Beban utama justru datang dari skema kompensasi bagi dunia usaha dan pekerja yang terdampak, yang diperkirakan menelan biaya hingga 2,3 miliar dolar AS.

Pemerintah juga harus menanggung sekitar 160 juta dolar AS untuk menutupi biaya pekerja yang terpaksa dirumahkan tanpa gaji selama masa perang.

Laporan dari Yedioth Ahronoth menyoroti kehancuran di sektor agrikultur. Para petani 'Israel' di wilayah utara dan selatan mengalami kerugian hingga puluhan juta shekel karena ketidakmampuan mengirimkan produk ke luar negeri akibat gangguan logistik dan penutupan jalur perdagangan.

Pabrik-pabrik pengalengan dan pengolahan sayuran di wilayah utara terpaksa mengurangi aktivitas secara drastis, sehingga hasil panen petani tidak dapat diserap.

Perang yang pecah sejak 28 Februari lalu, melibatkan aliansi 'Israel'-Amerika Serikat melawan Iran, telah memicu aksi saling balas menggunakan rudal dan pesawat tanpa awak (drone). Situasi semakin rumit setelah Hizbullah resmi bergabung dalam konfrontasi pada 2 Maret sebagai respons atas serangan 'Israel', meskipun kesepakatan gencatan senjata sebelumnya sempat berlaku pada November 2024.

Pemerintah 'Israel' kini dilaporkan tengah berupaya melonggarkan pembatasan aktivitas ekonomi di dalam negeri guna menekan kerugian finansial yang lebih besar di tengah gempuran yang masih berlangsung. (zarahamala/arrahmah.id)