TEHERAN (Arrahmah.id) - Ketegangan di Timur Tengah mencapai titik kritis setelah Pemerintah Iran secara resmi menolak ultimatum 48 jam yang dilayangkan Presiden AS Donald Trump. Teheran memperingatkan bahwa "pintu neraka" justru akan terbuka bagi Amerika Serikat dan sekutunya jika serangan terhadap kedaulatan Iran terus dilanjutkan.
Jenderal Ali Abdollahi Aliabadi, petinggi Markas Besar Pusat Khatam al-Anbiya, menyebut ancaman Trump sebagai tindakan yang tidak seimbang dan bodoh. Pernyataan ini muncul sebagai respons atas unggahan Trump di Truth Social yang mengancam akan menghancurkan jaringan listrik Iran jika Selat Hormuz tidak segera dibuka.
Eskalasi militer di lapangan meningkat drastis pada Sabtu (4/4). Serangan gabungan AS-'Israel' dilaporkan menghantam area sekitar Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir Bushehr. Serangan tersebut menewaskan satu orang dan memicu evakuasi darurat bagi seluruh staf ahli asal Rusia yang tersisa di lokasi tersebut.
Selain Bushehr, serangan udara juga menyasar beberapa titik strategis lainnya, antara lain: zona Petrokimia Khusus Mahshahr, melukai lima orang di wilayah barat daya Iran. Pos perbatasan Shalamcheh, menewaskan seorang warga Irak dan memaksa penutupan jalur perbatasan dengan Irak. Infrastruktur pendidikan, Menteri Sains Iran melaporkan 30 universitas telah diserang, memaksa aktivitas akademik dialihkan sepenuhnya ke sistem daring.
Balasan Iran ke Wilayah Teluk
Iran merespons tekanan militer tersebut dengan meluncurkan serangan drone dan rudal yang menargetkan infrastruktur vital di negara-negara Teluk pada Ahad (5/4/2026). Laporan mengonfirmasi adanya kerusakan pada pabrik petrokimia di Bahrain dan Abu Dhabi.
Di Kuwait, serangan Iran menghantam dua pembangkit listrik dan sebuah pabrik desalinasi air yang memaksa fasilitas tersebut berhenti beroperasi. Kantor Kementerian Keuangan Kuwait juga dilaporkan mengalami kerusakan akibat hantaman drone.
Pihak berwenang Iran, melalui Kantor Berita Fars, mengklaim telah menyiapkan kejutan besar bagi militer Amerika Serikat. Selain target militer, Teheran juga merilis daftar perusahaan besar AS di kawasan tersebut yang masuk dalam daftar target serangan, termasuk raksasa teknologi seperti Apple, Google, Microsoft, serta institusi finansial JP Morgan.
Saat ini, 'Israel' dilaporkan dalam posisi siaga penuh untuk menyerang fasilitas energi utama Iran dan hanya menunggu instruksi final dari Washington. Dengan sisa waktu kurang dari 48 jam dari ultimatum Trump, kawasan Selat Hormuz kini menjadi titik paling rawan dalam konflik global tahun 2026 ini. (zarahamala/arrahmah.id)
