WASHINGTON (Arrahmah.id) - Penggunaan teknologi kecerdasan buatan (AI) telah mengubah wajah peperangan modern dalam konflik AS-'Israel' melawan Iran yang pecah sejak 28 Februari lalu. Militer Amerika Serikat dilaporkan berhasil meluncurkan lebih dari 1.000 serangan ke berbagai target di Iran hanya dalam satu hari berkat bantuan sistem AI militer yang dikenal sebagai Project Maven.
Sistem ini memungkinkan identifikasi target dengan kecepatan yang tidak pernah terjadi sebelumnya dalam sejarah militer, melampaui kemampuan analisis manusia tradisional.
Project Maven, yang diluncurkan Pentagon pada 2017, awalnya dirancang untuk membantu analis militer memproses ribuan jam rekaman video dari pesawat nirawak (drone). Namun, sistem ini kini telah berkembang menjadi platform manajemen medan perang yang sangat kompleks.
Menurut laporan Washington Post, Project Maven mengintegrasikan data dari 179 sumber berbeda, termasuk citra satelit resolusi tinggi, sensor radar dan laporan intelijen lapangan.
Mempercepat Rantai Pembunuhan (Kill Chain)
Sistem ini secara drastis memangkas waktu kill chain (durasi antara penemuan target hingga eksekusi serangan), dari hitungan jam atau hari menjadi hanya dalam hitungan detik.
Proyek ini tidak lepas dari kontroversi keterlibatan perusahaan Silicon Valley. Awalnya, Google menjadi penyedia utama teknologi ini sebelum akhirnya mundur pada 2018 akibat protes ribuan karyawannya yang menolak penggunaan AI untuk tujuan perang.
Saat ini, tongkat estafet dipegang oleh Palantir, perusahaan yang didukung CIA, sebagai penyedia infrastruktur operasional utama. Teknologi "Claude" dari Anthropic sempat diintegrasikan agar pengguna bisa berinteraksi dengan sistem menggunakan bahasa alami. Namun, karena pembatasan etis dari Anthropic, pemerintah AS kini mulai melirik OpenAI dan xAI milik Elon Musk untuk kontrak masa depan.
Tragedi Minab: Ketika AI Salah Pilih Target
Meskipun memberikan keunggulan strategis, ketergantungan pada algoritma membuahkan hasil mematikan. Pada hari pertama perang, sebuah serangan udara menghantam sebuah sekolah dasar perempuan di kota Minab, Iran selatan.
Laporan New York Times menyebutkan bahwa lokasi sekolah tersebut diduga kuat masuk ke dalam daftar target yang direkomendasikan oleh Project Maven. Insiden tragis ini menewaskan sedikitnya 165 anak perempuan. Pentagon kini tengah melakukan penyelidikan internal untuk mengetahui bagaimana fasilitas sipil tersebut bisa masuk ke dalam bank target serangan.
Para ahli militer memperingatkan bahwa dunia kini memasuki era Perang Algoritma. Keunggulan di medan tempur tidak lagi hanya ditentukan oleh jumlah personel atau kekuatan senjata, melainkan oleh kecepatan algoritma dalam memproses data.
Namun, ketergantungan yang terlalu tinggi pada AI tanpa pengawasan manusia yang memadai dikhawatirkan akan memicu lebih banyak kesalahan katastropik di masa depan, seiring dengan semakin kaburnya batasan etika dalam penggunaan teknologi otomatis di zona konflik. (zarahamala/arrahmah.id)
