TEHERAN (Arrahmah.id) -- Seorang mantan komandan Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) mengklaim bahwa Arab Saudi telah memiliki senjata nuklir, dan bahwa Amerika Serikat serta Israel sudah mengetahuinya. Hal tersebut diungkap Hussein Kanani dalam wawancara dengan saluran TV RT (9/2/2026).
Ia juga menuduh badan intelijen asing terlibat dalam kampanye politik di Iran. Namun klaim ini berasal dari satu sumber dan tidak dikonfirmasi oleh pejabat resmi atau lembaga internasional terkait proliferasi nuklir seperti International Atomic Energy Agency (IAEA).
Arab Saudi sendiri secara resmi menyatakan program nuklirnya hanya bertujuan untuk energi dan diversifikasi ekonomi, dan belum mengoperasikan reaktor nuklir sipil maupun memiliki fasilitas yang terdaftar menghasilkan bahan fisil senjata.
Kementerian Energi Saudi pernah menyatakan niat untuk mengembangkan energi nuklir untuk kebutuhan listrik, serta kemungkinan memperkaya uranium, namun ini tetap berada di bawah pengawasan IAEA yang lebih ketat.
Negara ini saat ini masih berada di bawah Perjanjian Pengawasan Kecil (Small Quantities Protocol) IAEA, yang berarti aktivitas nuklirnya terbatas dan diawasi sesuai standar internasional untuk memastikan tidak dialihkan ke program senjata.
Rencana Riyadh untuk meningkatkan pengawasan nuklir sipilnya di bawah perjanjian inspeksi penuh juga menunjukkan komitmen terhadap penggunaan nuklir damai.
Klaim bahwa AS dan Israel mengetahui Saudi memiliki bom nuklir menimbulkan skeptisisme di kalangan analis keamanan internasional karena tidak ada bukti independen yang mendukung pernyataan tersebut.
Pemerintah AS dan Israel selama ini secara resmi tidak menyatakan bahwa Arab Saudi memiliki senjata nuklir; sebaliknya, isu yang sering dibahas adalah kemungkinan Arab Saudi memperoleh kemampuan nuklir di masa depan jika Iran benar-benar mengembangkan senjata nuklir — sebuah kondisi yang secara terbuka dikatakan oleh Putra Mahkota Mohammed bin Salman sebagai respons potensial terhadap ancaman regional.
Secara geopolitik, kekhawatiran proliferasi nuklir di Timur Tengah telah menjadi topik utama dalam beberapa tahun terakhir, terutama karena ketegangan antara Iran, Israel, dan negara Teluk yang lain.
Arab Saudi sendiri telah menandatangani pakta pertahanan dengan negara nuklir Pakistan, yang diyakini memberikan semacam payung nuklir bagi Riyadh dalam konteks ancaman regional, meskipun ini bukan bukti kapasitas nuklir Saudi sendiri. (hanoum/arrahmah.id)
