Memuat...

Iran Pamerkan Terowongan Rudal Bawah Laut, Ancam Tutup Selat Hormuz Jika Diserang

Zarah Amala
Kamis, 29 Januari 2026 / 11 Syakban 1447 11:04
Iran Pamerkan Terowongan Rudal Bawah Laut, Ancam Tutup Selat Hormuz Jika Diserang
Tangsiri mengatakan Angkatan Laut IRGC memiliki jaringan terowongan rudal yang luas di bawah laut, yang dikembangkan untuk menghadapi kapal-kapal AS yang beroperasi di Teluk dan Laut Oman [Getty]

TEHERAN (Arrahmah.id) - Ketegangan di kawasan Teluk meningkat tajam setelah Iran meluncurkan cuplikan jaringan terowongan rudal bawah laut yang diklaim menampung ratusan rudal jelajah jarak jauh. Komandan Angkatan Laut Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), Alireza Tangsiri, memperingatkan bahwa Selat Hormuz tidak akan lagi aman bagi lalu lintas pelayaran global jika Iran menjadi sasaran serangan.

Rudal yang dipamerkan, termasuk tipe "Qader 380 L", diklaim memiliki jangkauan lebih dari 1.000 kilometer dan dilengkapi dengan sistem pemandu pintar. Jaringan terowongan ini sengaja dikembangkan untuk menghadapi kapal-kapal perang Amerika Serikat yang beroperasi di Teluk dan Laut Oman.

Deputi Politik Angkatan Laut IRGC, Mohammad Akbarzadeh, menyatakan bahwa Teheran memegang "dominasi penuh" atas Selat Hormuz di udara, permukaan, maupun bawah air. Selat ini merupakan jalur vital yang dilewati sekitar 21 juta barel minyak setiap hari, atau setara dengan 37 persen lalu lintas minyak global.

Iran memperingatkan negara-negara tetangga bahwa meskipun mereka dianggap sebagai rekan, wilayah mereka akan diperlakukan sebagai zona musuh jika digunakan oleh pihak asing untuk menyerang Iran. Media Iran juga menyiarkan simulasi penargetan kapal induk AS, USS Abraham Lincoln, sebagai pesan langsung kepada Washington.

Menanggapi ancaman tersebut, Amerika Serikat telah mengonfirmasi kedatangan armada kapal induk USS Abraham Lincoln beserta pesawat tempur tambahan ke wilayah Timur Tengah. Presiden Donald Trump menyatakan bahwa armada tempur lainnya tengah menuju kawasan tersebut, meskipun ia masih membuka pintu bagi negosiasi.

"Presiden tetap menyiapkan segala opsi di atas meja," ujar seorang pejabat Departemen Luar Negeri AS. Washington menuduh rezim Iran mengabaikan rakyatnya demi membiayai proksi teroris dan riset senjata nuklir.

Di tengah eskalasi militer, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menegaskan bahwa diplomasi di bawah tekanan militer tidak akan efektif. Namun, Teheran tetap mengintensifkan komunikasi diplomatik dengan negara-negara Arab seperti Arab Saudi dan Qatar untuk mencegah perang terbuka yang dapat memicu gelombang kejut berbahaya bagi ekonomi global. (zarahamala/arrahmah.id)

IranHeadlineperangASselat hormuz