YERUSALEM (Arrahmah.id) -- Otoritas 'Israel' dilaporkan mengizinkan rabi dan pelajar Yahudi memasuki kawasan Tembok Barat untuk melakukan ritual keagamaan selama perayaan Paskah, sementara akses umat Muslim ke kompleks Masjid Al Aqsa disebut telah dibatasi selama lebih dari sebulan di tengah situasi perang.
Dilansir The Times of Israel (6/4/2026), perayaan keagamaan seperti Passover dan Paskah tetap berlangsung secara terbatas di Kota Tua Yerusalem, dengan hanya sejumlah kecil pemuka agama yang diizinkan melakukan ritual di lokasi suci, termasuk di Western Wall.
Namun, pembatasan ketat diberlakukan secara luas di seluruh situs suci di Yerusalem akibat kondisi keamanan. Banyak tempat ibadah utama, termasuk Al Aqsa, dilaporkan ditutup atau dibatasi aksesnya, sehingga mencegah kehadiran massal jemaah Muslim selama periode tersebut.
Sementara itu, laporan lain menyebut bahwa penutupan kompleks Al Aqsa telah berlangsung selama lebih dari 30 hari sejak akhir Februari 2026, dengan pembatasan yang secara efektif menghentikan pelaksanaan ibadah bagi umat Muslim di lokasi tersebut.
Di sisi lain, kelompok Yahudi tetap diizinkan mengakses area sekitar Tembok Barat untuk melaksanakan ritual keagamaan dalam skala terbatas, meski di bawah pengamanan ketat aparat keamanan 'Israel'.
Media seperti Haaretz juga melaporkan bahwa perang yang sedang berlangsung berdampak besar terhadap kehidupan keagamaan di Kota Tua Yerusalem, dengan pembatasan pergerakan dan larangan berkumpul yang memengaruhi umat dari berbagai agama.
Kondisi ini memperlihatkan bagaimana konflik yang sedang berlangsung tidak hanya berdampak pada aspek militer dan politik, tetapi juga membatasi aktivitas keagamaan di salah satu kawasan paling sensitif di dunia, yang selama ini menjadi titik temu tiga agama besar: Islam, Yahudi, dan Kristen. (hanoum/arrahmah.id)
