TEHERAN (Arrahmah.id) -- Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengkritik 'Israel' karena terus memperluas kekuatan militernya tepapi menekan negara-negara lain untuk melucuti senjata. Tuduhan itu mencuat dalam pidato Abbas pada Al Jazeera Forum (7/2/2926) di Doha.
Araghchi menegaskan, seperti dilansir Arab News (7/2), bahwa di bawah doktrin yang dikritiknya, 'Israel' dianggap bebas untuk memperluas kekuatan militernya, termasuk teknologi dan kapasitas pertahanan, sementara tetangga dan negara lain di kawasan diharuskan menahan atau bahkan mengurangi persenjataan mereka.
“Israel bebas untuk memperluas arsenal militernya… namun negara lain dituntut melucuti senjata,” ujarnya.
Kritik Iran ini muncul sehari setelah perundingan negosiasi nuklir tidak langsung dengan Amerika Serikat di Oman, yang merupakan pembicaraan paling signifikan antara kedua negara sejak percobaan konflik berskala besar tahun lalu.
Araghchi mengatakan perundingan itu berlangsung dalam “suasana sangat positif,” meskipun isu militer tetap menjadi titik gesekan utama.
'Israel' selama bertahun-tahun mempertahankan bahwa kekuatan militer yang kuat diperlukan untuk menghadapi ancaman regional, terutama dari Iran dan kelompok bersenjata yang didukung Teheran, meskipun hal ini sering dikecam oleh negara lain dan organisasi internasional sebagai eskalasi militerisme.
Sekalipun kritik Araghchi berfokus pada apa yang disebutnya tekanan terhadap negara lain agar mengurangi kapabilitas pertahanan, respons resmi Israel terhadap tudingan ini belum dirilis oleh pejabat Tel Aviv. Namun sikap keras Teheran mencerminkan ketegangan politis yang terus membayangi hubungan Iran-Israel, bahkan di saat kedua pihak terlibat perundingan nuklir yang difasilitasi oleh pihak ketiga.(hanoum/arrahmah.id)
