TEL AVIV (Arrahmah.id) -- Perdana Menteri 'Israel' Benjamin Netanyahu menegaskan bahwa Jeffrey Epstein bukan agen 'Israel'. Pernyataan ini muncul di tengah kembali mencuatnya dokumen dan spekulasi internasional terkait jaringan dan relasi Epstein dengan tokoh politik global, termasuk mantan Perdana Menteri Israel Ehud Barak.
Netanyahu secara terbuka menolak tudingan yang mengaitkan Epstein dengan badan intelijen 'Israel'. Ia menyatakan hubungan dekat Epstein dengan Ehud Barak justru membuktikan bahwa pengusaha kontroversial tersebut tidak bekerja untuk 'Israel'.
Dalam pernyataan melalui media sosial, sebagaimana dilaporkan The Times of Israel (7/2/2026), Netanyahu menegaskan relasi Epstein dan Barak tidak menunjukkan adanya kaitan dengan operasi intelijen 'Israel', melainkan memperlihatkan kedekatan personal semata,
Pernyataan tersebut disampaikan setelah dokumen baru terkait kasus Epstein kembali menjadi sorotan publik internasional.
Menurut laporan TRT World, Netanyahu juga memanfaatkan polemik tersebut untuk menyerang rival politiknya, Ehud Barak, dengan menilai hubungan Barak dengan Epstein mencerminkan penilaian politik yang buruk, bukan bukti keterlibatan intelijen 'Israel'. Ia menekankan bahwa klaim Epstein bekerja untuk Israel merupakan teori yang tidak berdasar.
Kontroversi ini muncul setelah sejumlah dokumen lama, termasuk laporan FBI tahun 2020, kembali diperbincangkan publik.
Dalam dokumen tersebut, disebutkan adanya klaim dari sumber tertentu yang menyebut Epstein pernah dilatih sebagai mata-mata di bawah pengaruh Barak. Namun, laporan tersebut tidak pernah mengonfirmasi secara resmi keterlibatan Epstein sebagai agen negara mana pun, sebagaimana dilaporkan TRT World.
Sementara itu, media Middle East Monitor mengungkap bahwa hubungan Epstein dan Barak telah menjadi perhatian publik sejak foto serta laporan pertemuan keduanya pada pertengahan 2010-an beredar luas.
Pertemuan tersebut, termasuk kunjungan Barak ke kediaman Epstein di New York, sempat menimbulkan kritik dan spekulasi terkait kedekatan keduanya.
Di sisi lain, dokumen Epstein yang dirilis Departemen Kehakiman Amerika Serikat memperlihatkan jaringan sosial luas Epstein yang melibatkan tokoh politik, diplomat, dan figur berpengaruh dari berbagai negara.
Meski banyak nama tercantum dalam dokumen tersebut, keterlibatan mereka dalam aktivitas kriminal Epstein tidak terbukti secara hukum, menurut laporan Anadolu Agency.
Kasus Epstein sendiri masih memicu spekulasi global sejak kematiannya pada 2019 saat menunggu proses hukum atas tuduhan perdagangan seks. Hingga kini, berbagai teori mengenai kemungkinan keterkaitannya dengan lembaga intelijen beberapa negara masih menjadi perdebatan, namun belum ada bukti resmi yang mengonfirmasi klaim tersebut. (hanoum/arrahmah.id)
