GAZA (Arrahmah.id) - Kantor Media Pemerintah di Jalur Gaza mengeluarkan bantahan keras terhadap pernyataan Nickolay Mladenov, utusan khusus Board of Peace, terkait jumlah truk bantuan yang masuk ke wilayah kantong tersebut. Dalam pernyataan resmi pada Jumat (10/4/2026), pihak Gaza menyebut angka yang disampaikan Mladenov sebagai penyesatan yang nyata.
Sebelumnya, melalui akun media sosial X, Mladenov mengeklaim bahwa sebanyak 602 truk pengangkut kebutuhan pokok telah masuk ke Gaza pada Kamis (9/4). Ia menyebut pencapaian tersebut sebagai standar harian baru yang berhasil dicapai berkat kerja sama timnya, Komite Nasional Pengelola Gaza, dan Dewan Perdamaian.
Kantor Media Pemerintah Gaza menegaskan bahwa klaim Mladenov tidak akurat dan bertentangan dengan fakta di lapangan. Klaim Mladenov menyebutan bahwa 602 truk bantuan masuk pada Kamis (9/4), sementara fakta di lapangan menunjukan hanya 207 truk yang tercatat masuk. Dari jumlah tersebut, hanya 79 truk yang berisi bantuan kemanusiaan, sementara sisanya adalah barang dagangan komersial untuk perusahaan swasta.
Pihak Gaza menekankan bahwa sejak gencatan senjata dimulai, komitmen pengiriman bantuan hanya mencapai 38% dari target yang disepakati. Berdasarkan protokol kemanusiaan yang ditandatangani Oktober lalu, Gaza seharusnya menerima 600 truk bantuan setiap hari, termasuk 50 truk bahan bakar.
Kantor Media Pemerintah juga mempertanyakan integritas Board of Peace dalam mengawasi pelanggaran yang dilakukan 'Israel'. "Di mana posisi Board of Peace terhadap pelanggaran harian 'Israel' atas kesepakatan gencatan senjata? Mengapa mereka bungkam terhadap penderitaan warga sipil di tengah bencana kemanusiaan yang kian memburuk?" tulis pernyataan tersebut.
Kondisi ekonomi di Gaza tetap memprihatinkan dengan daya beli masyarakat yang lemah akibat kelangkaan barang dan lonjakan harga yang ekstrem.
Di sisi lain, Mladenov terus melanjutkan langkah diplomatik dengan bertemu Perwakilan Khusus Uni Eropa, Christophe Bigot, di Kairo pada Kamis (9/4). Pertemuan tersebut membahas persiapan Tahap Kedua dari rencana perdamaian 20 poin yang diusulkan Amerika Serikat.
Meskipun utusan internasional optimis terhadap kemajuan ini, ketegangan mengenai transparansi data bantuan tetap menjadi batu sandungan besar dalam kepercayaan antara otoritas lokal di Gaza dan para penengah internasional. (zarahamala/arrahmah.id)
