Memuat...

Iran Bantah Kabar Mojtaba Khamenei Kritis Akibat Serangan AS-'Israel'

Hanoum
Jumat, 10 April 2026 / 22 Syawal 1447 04:47
Iran Bantah Kabar Mojtaba Khamenei Kritis Akibat Serangan AS-'Israel'
Mojtaba Khamenei. [Foto: X]

TEHERAN (Arrahmah.id) -- Pemerintah Iran membantah keras laporan yang menyebut Mojtaba Khamenei mengalami kondisi kritis, luka parah, hingga patah kaki akibat serangan yang dikaitkan dengan Amerika Serikat dan 'Israel', menyebut informasi tersebut sebagai tidak benar dan tidak berdasar.

Isu tersebut sebelumnya beredar luas di media sosial dan sejumlah laporan media, yang mengklaim bahwa Mojtaba—putra dari Pemimpin Tertinggi Iran—mengalami cedera serius akibat serangan militer terbaru. Namun, laporan dari media internasional seperti Asharq Al-Awsat dan Iran International menunjukkan bahwa informasi tersebut masih simpang siur dan belum terverifikasi secara independen.

Menanggapi hal itu, pihak berwenang Iran menegaskan bahwa kabar mengenai kondisi kritis Mojtaba tidak sesuai dengan fakta di lapangan.

“Laporan tentang kondisi kritis, luka parah, atau cedera serius adalah tidak benar dan merupakan bagian dari informasi yang menyesatkan,” demikian pernyataan yang disampaikan pihak Iran dikutip dari Iran International (9/4/2026).

Kabar ini mencuat di tengah meningkatnya eskalasi konflik antara Iran dengan 'Israel' dan Amerika Serikat dalam beberapa hari terakhir, yang memicu gelombang disinformasi dan klaim yang belum terkonfirmasi mengenai tokoh-tokoh penting di Iran.

Sejumlah analis menilai bahwa figur Mojtaba Khamenei kerap menjadi sasaran spekulasi karena posisinya yang dianggap memiliki pengaruh besar dalam struktur kekuasaan Iran, meskipun tidak memegang jabatan resmi publik.

Hingga saat ini, tidak ada bukti kuat dari sumber resmi maupun verifikasi independen yang memastikan bahwa Mojtaba Khamenei mengalami luka akibat serangan. Dengan demikian, klaim mengenai kondisinya yang kritis, wajah robek, dan kaki patah dinilai sebagai informasi yang belum dapat dipastikan kebenarannya.

Situasi ini kembali menegaskan pentingnya verifikasi informasi di tengah konflik yang berkembang cepat, di mana berbagai klaim dapat dengan mudah menyebar tanpa konfirmasi yang jelas.  (hanoum/arrahmah.id)